RADARTUBAN – Banyak orang merasa terjebak dalam kebiasaan lama dan sulit melakukan transformasi diri, meski memiliki niat kuat.
Hal ini berkaitan erat dengan mekanisme kerja otak manusia yang secara alami cenderung menolak perubahan demi menjaga zona nyaman.
Pakar neuroscience, dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan “hemat energi”. Proses berpikir kritis dan beradaptasi dengan hal baru membutuhkan energi kognitif besar, sehingga otak lebih memilih jalur termudah, yakni kebiasaan yang sudah terbentuk (habit).
“Manusia itu suka yang nyaman. Perubahan mensyaratkan berkurangnya kenyamanan. Sementara sifat manusia adalah selalu ingin mencapai kepuasan atau satisfaction, yang identik dengan kenyamanan,” ujar dr. Edmi dalam diskusi di kanal YouTube BigThinkers ID.
Baca Juga: Ingin Jadi Warga Negara Jepang? Syarat Naturalisasi Kini Jauh Lebih Ketat dan Sulit
Pentingnya Mentor dan Refleksi Diri
Dalam proses perubahan, dr. Edmi menekankan pentingnya refleksi diri. Tanpa evaluasi terhadap pengalaman masa lalu, seseorang cenderung mengulang kesalahan yang sama.
Ia juga menyoroti peran mentor yang mampu memangkas waktu belajar sekaligus membantu seseorang menghindari confirmation bias, yakni kecenderungan merasa sudah benar tanpa dasar yang kuat.
“Yang membedakan adalah kemauan untuk refleksi diri. Akan jauh lebih efektif jika belajar dengan mentor dibandingkan sepenuhnya otodidak,” tambahnya.
Dua Sisi Otak dalam Pengambilan Keputusan
Lebih lanjut, dr. Edmi menjelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat dua bagian otak yang berperan, yakni prefrontal cortex untuk logika dan sistem limbik untuk emosi.
Keduanya tidak dapat bekerja optimal secara bersamaan. Saat emosi mendominasi—baik marah, sedih, maupun euforia—fungsi logika akan menurun. Kondisi ini kerap menjadi penyebab keputusan yang tidak tepat.
“Kepemimpinan berfokus pada manusia. Komunikasi menjadi alat utama, dan yang kedua adalah pengambilan keputusan. Banyak orang pintar gagal dalam kepemimpinan karena tidak mampu mengendalikan emosi,” jelasnya.
Bahaya Multitasking dan Pentingnya Fokus
Di era digital yang penuh distraksi, kemampuan menjaga fokus menjadi keterampilan yang sangat berharga. dr. Edmi menegaskan bahwa secara ilmiah, multitasking sebenarnya tidak ada.
Yang terjadi adalah rapid task switching atau perpindahan tugas secara cepat yang justru menguras energi otak dan menurunkan kualitas pekerjaan.
Dia menyarankan teknik time boxing, seperti metode Pomodoro, untuk membantu menjaga fokus dalam menyelesaikan satu tugas dalam periode tertentu.
“Multitasking justru membuat pekerjaan tidak selesai dengan baik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjaga atensi dalam jangka waktu panjang,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya terus belajar hal baru tanpa memandang usia. Otak manusia memiliki plastisitas yang memungkinkan untuk terus berkembang selama terus dilatih dan diberi tantangan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama