RADARTUBAN – Pergerakan harga logam mulia dunia mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini.
Harga emas dan perak terpantau "babak belur" setelah dihantam sentimen negatif dari memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan di Selat Hormuz.
Berdasarkan data pasar pada Senin (20/4) pagi, harga emas dunia melorot tajam sebesar 1,23 persen ke level USD 4.769,13 per troy ons.
Penurunan ini memaksa harga emas kembali terjun bebas setelah sempat bertengger di atas level psikologis USD 4.800 per troy ons pada akhir pekan lalu.
Sentimen Global dan Geopolitik
Kondisi volatile ini berbanding terbalik dengan performa emas pada akhir pekan sebelumnya yang sempat menguat 0,85 persen di level USD 4.828,3 per troy ons.
Meski demikian, secara mingguan emas sebenarnya masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,7 persen, sekaligus menandai penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Tekanan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keamanan di jalur perdagangan internasional, Selat Hormuz.
Selain itu, investor kini tengah pasang mata terhadap potensi berakhirnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan pada 22 April mendatang.
"Sentimen pasar kini dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik dan juga data ekonomi global," sebagaimana dikutip dari laporan ekonomi terkait pergerakan harga komoditas pagi ini.
Menanti Sinyal Kebijakan Moneter
Selain faktor konflik, para pelaku pasar juga sedang menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan Inggris, seperti data PMI manufaktur, jasa, penjualan ritel, hingga sektor properti.
Data-data ini dianggap krusial untuk menentukan arah investasi di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, pasar juga menantikan sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh.
Banyak pihak memperkirakan kehadiran figur tersebut akan memberikan sinyal positif terkait pelonggaran kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi daya tarik emas di masa depan.
Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Belum Bisa Melintasi Selat Hormuz
Meski sempat mengalami tekanan besar pada bulan Maret lalu, arus masuk investor ke instrumen ETF (Exchange Traded Fund) logam mulia dilaporkan mulai kembali meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor masih melirik emas sebagai aset aman (safe haven) di tengah gejolak dunia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama