RADARTUBAN – Pernah merasa pikiran tidak berhenti berputar, bahkan untuk hal-hal yang belum tentu terjadi?
Kondisi ini dikenal sebagai overthinking atau berpikir berlebihan, yang dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Beberapa tanda umum overthinking antara lain terus memikirkan ucapan atau tindakan di masa lalu, khawatir berlebihan terhadap masa depan, hingga merasa bertanggung jawab atas perasaan atau masalah orang lain.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini tidak hanya menguras energi mental, tetapi juga menghambat seseorang dalam mengambil tindakan.
Baca Juga: Mengapa Sulit Berubah? Pakar Neuroscience Ungkap Cara Kerja Otak dan Kunci Sukses Pemimpin
Secara psikologi, pikiran yang terus berulang akan memengaruhi perasaan, lalu berdampak pada tindakan.
Karena itu, penting untuk mengelola pola pikir agar tidak terjebak dalam lingkaran kecemasan.
Dilansir dari YourTango pada Senin (20/4), terdapat tiga cara efektif yang dapat membantu menghentikan overthinking ketika otak terasa tidak mau diam.
1. Sadari saat pikiran mulai berputar
Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda sedang overthinking. Kesadaran ini menjadi kunci utama untuk mengubah pola pikir.
Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai metakognisi, yaitu kemampuan untuk mengamati dan memahami proses berpikir sendiri.
Dengan menjadi “pengamat” pikiran, seseorang dapat melihat bahwa pikiran negatif hanyalah peristiwa mental, bukan kenyataan mutlak.
Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri: apa yang sedang dipikirkan, bagaimana perasaan yang muncul, dan apa dampaknya terhadap tindakan Anda.
2. Alihkan atau sela pikiran yang mengganggu
Jika pikiran mulai tak terkendali, cobalah mengalihkan fokus. Cara sederhana seperti menghitung benda di sekitar, mendengarkan musik atau podcast, hingga menuliskan semua kekhawatiran dapat membantu “memutus” pola overthinking.
Selain itu, teknik menjawab pertanyaan “bagaimana jika” juga dapat membantu.
Daripada hanya membayangkan skenario terburuk, cobalah menjawabnya dengan solusi: “Apa yang akan saya lakukan jika itu benar terjadi?”
Pendekatan ini membantu otak membangun jalur berpikir yang lebih sehat dan realistis.
Baca Juga: Chip Otak Elon Musk Makin Nyata, 12 Pasien Sudah Bisa Kendalikan Komputer dengan Pikiran
3. Pertanyakan kebenaran pikiran Anda
Setelah menyadari pola pikir, langkah berikutnya adalah menguji validitasnya. Tidak semua pikiran yang muncul itu benar atau bermanfaat.
Ajukan pertanyaan seperti: apakah pikiran ini membantu? Apa yang terjadi jika saya berpikir berbeda? Bagaimana jika pikiran ini tidak benar?
Pendekatan ini dikenal sebagai penilaian ulang kognitif, yang terbukti efektif dalam mengurangi stres dan emosi negatif.
Dengan mempertanyakan pikiran, seseorang dapat melihat situasi secara lebih objektif dan tidak terjebak dalam asumsi yang merugikan.
Pada akhirnya, overthinking sering kali berkaitan dengan perfeksionisme dan kebiasaan menunda.
Semakin banyak waktu dihabiskan untuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi, semakin sedikit tindakan nyata yang dilakukan.
Mengurangi overthinking bukan berarti menghilangkan pikiran negatif sepenuhnya, melainkan belajar mengelolanya dengan lebih bijak.
Dengan begitu, seseorang dapat lebih fokus menjalani hidup saat ini tanpa terbebani oleh masa lalu atau kekhawatiran akan masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama