RADARTUBAN – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), nilai diri (value) seseorang kini tidak lagi bisa diukur hanya dari selembar ijazah atau keahlian teknis semata.
Konteks dan kecerdasan emosional menjadi kunci utama agar seseorang tetap relevan dan "terpakai" di pasar kerja maupun dunia usaha.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi hangat di kanal Nalar TV Indonesia yang menghadirkan pakar marketing, Adityya Pratama.
Dia menekankan bahwa musuh terbesar masyarakat menengah ke bawah saat ini bukanlah kurangnya modal, melainkan sikap menutup diri atau yang sering dibalut dengan istilah "introvert".
Baca Juga: Sering Diabaikan, Ini 4 Tanda Anda Tidak Baik-Baik Saja Secara Emosional
Value Adalah Soal Konteks
Menurut Adityya, banyak orang merasa sudah bekerja keras namun tidak mendapatkan apresiasi atau promosi yang layak.
Masalahnya seringkali sederhana: value yang dimiliki tidak sesuai dengan konteks tempatnya berada.
Dia mengibaratkan seperti kanvas di tangan orang biasa hanya akan menjadi barang gudang, namun di tangan Leonardo Da Vinci akan menjadi karya miliaran rupiah.
"Kalau orang tidak bisa hidup dengan baik, pilihannya cuma dua: memang tidak punya value, atau value-nya tidak sesuai konteks," tegasnya.
Dia mencontohkan, di masa depan, orang yang jago coding mungkin akan tergantikan AI, namun mereka yang "pintar bicara" atau mampu menjual mimpi seperti Elon Musk akan tetap berada di puncak.
Kecerdasan Emosional di Atas IQ
Di tengah pergeseran zaman, ada satu kemampuan yang dianggap akan terpakai di semua tempat dan waktu: Emotional Quotient (EQ).
Kepekaan terhadap suasana lingkungan, simpati, dan kemampuan membaca kebutuhan orang lain menjadi pembeda antara mereka yang sukses dan yang sekadar bertahan.
Seringkali, individu dengan skill rata-rata namun memiliki EQ tinggi justru lebih sukses dibanding mereka yang jenius secara teknis tapi kaku secara sosial.
"Kepekaan emosional itu hal yang sangat akan kepakai. Kadang konteksnya sudah di depan mata, tapi kita tidak punya kepekaan untuk menilai bahwa value kita sebenarnya cocok di situ," imbuhnya.
Melawan "Sapi" Introvert
Satu pernyataan tajam yang menjadi sorotan adalah larangan bagi "orang miskin" untuk bersikap introvert.
Adit menjelaskan bahwa banyak orang menyalahgunakan istilah introvert sebagai tameng untuk menutupi rasa minder atau malas bersosialisasi.
Padahal, bagi mereka yang tidak memiliki privilege modal, menjalin relasi (networking) adalah jalan satu-satunya untuk mencari peluang.
"Jangan suka berlindung di balik sapi 'saya introvert'. Kalau kita tidak punya uang, kita butuh duit, mau koin energi kita habis atau tidak, ya harus gas saja. Mau tahu konteks yang tepat? Ya bergaullah, ngobrol," serunya.
Dia menambahkan bahwa bagian terbaik dari komunikasi bukanlah berbicara, melainkan mendengar, yang justru merupakan kekuatan alami jika benar-benar dikelola.
Mental Baja dan Pentingnya Mentor
Selain EQ, mental resilience atau daya juang (grid) menjadi barang langka di era sekarang yang serba instan.
Adit menyarankan bagi generasi muda yang ingin memulai dari nol di tahun 2026 untuk tidak mencari mentor yang terlalu jauh jangkauannya, seperti para konglomerat triliuner.
"Cari mentor yang levelnya plus satu atau dua di atas kita. Kalau mau gaji Rp 10 juta, cari orang yang gajinya sudah Rp 10 juta atau Rp 20 juta. Mereka lebih teknikal dan sarannya lebih relevan, seperti cara memperbaiki CV atau strategi kerja harian," jelasnya.
Menutup diskusi, ia mengajak masyarakat untuk berhenti menjadi penonton dan mulai mengambil tindakan (take action).
Di era banjir informasi, tantangannya bukan lagi mencari data, melainkan memilah mana informasi yang tepat untuk pertumbuhan diri ke depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama