RADARTUBAN – Konten kreator Verina Triananda membagikan kisah inspiratifnya saat harus menepi selama dua bulan dari dunia digital akibat kehilangan semangat dan mengalami burnout yang cukup hebat.
Terjebak Standar Tinggi dan Ekspektasi Diri
Vakumnya Verina dipicu oleh akumulasi rasa lelah dan resistensi tubuh yang muncul akibat tekanan standar tinggi serta ekspektasi performa konten yang ia ciptakan sendiri di alam bawah sadarnya.
"Makin ke sini, aku menetapkan standar atau ekspektasi yang lebih tinggi juga, ada pikiran bahwa aku sudah dua tahun ngonten, masa sih gini-gini aja, berarti aku harus bikin konten yang lebih bagus lagi," ujar Verina.
Baca Juga: Google Health Premium Bocor, Era Baru Layanan Kesehatan Digital Dimulai
Kebutuhan Konten yang "Mencekik" Kreativitas
Rasa jenuh muncul karena ia merasa terbebani untuk selalu menemukan pelajaran hidup baru setiap minggu demi kebutuhan konten, hingga kehilangan gairah murni dalam menjalani hobi seperti membaca buku.
Kondisi mentalnya sempat memburuk akibat kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial saat dirinya sedang berada dalam titik terendah.
Menemukan Kekuatan Melalui Jalur Langit
Hikmah terbesar yang didapat Verina adalah kesadaran untuk tidak hanya mengandalkan logika dan teknik psikologi, melainkan harus berserah diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan untuk mendapatkan ketenangan sejati.
"Di situ aku sadar bahwa aku emang perlu banget meminta kekuatan ke Tuhan, ke Allah, dan aku ngerasain sendiri ternyata aku jadi bisa lebih tenang dan lebih bisa melepaskan kekhawatiran," tuturnya.
Strategi Kembali: Turunkan Standar, Hargai Kehadiran
Dalam langkah comeback-nya, dia menerapkan strategi dengan menurunkan standar durasi maupun konsistensi konten, serta lebih mengapresiasi setiap usaha kecil untuk hadir kembali tanpa harus menuntut kesempurnaan.
"Anggap aja kamu lagi mulai dari awal, turunkan standarnya dari segi kualitas maupun konsistensi, yang penting hari ini kamu hadir dulu aja," pungkasnya sebagai pesan penutup bagi para pengikutnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama