Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Multitasking yang Justru Menurunkan Kualitas Kerja

M. Afiqul Adib • Rabu, 20 Mei 2026 | 16:57 WIB
Multitasking yang sering dianggap sebagai skill modern, padahal justru menurunkan fokus, produktivitas, dan kualitas kerja. (Javad Esmaeili on Unsplash)
Multitasking yang sering dianggap sebagai skill modern, padahal justru menurunkan fokus, produktivitas, dan kualitas kerja. (Javad Esmaeili on Unsplash)

RADARTUBAN - Multitasking sering dianggap sebagai skill modern. Banyak orang merasa bangga ketika bisa mengerjakan banyak hal sekaligus, seolah-olah itu tanda produktivitas tinggi.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Multitasking lebih sering membuat kita terlihat sibuk daripada benar-benar efektif.

Kenapa otak tidak benar-benar fokus ke banyak hal sekaligus? Karena secara biologis, otak manusia hanya bisa fokus penuh pada satu hal dalam satu waktu. Ketika kita berpindah dari satu tugas ke tugas lain, otak butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, energi mental terkuras lebih cepat.

Baca Juga: Hubungkan Antar-Pulau, Norwegia Kerjakan Proyek Terowongan Jalan Raya Bawah Laut Sepanjang 27 KM di Bawah Fjord

Produktif atau hanya terlihat sibuk? Inilah pertanyaan yang sering muncul. Multitasking membuat seseorang tampak aktif, tetapi hasil kerja sering tidak maksimal. Banyak pekerjaan selesai setengah-setengah, tanpa kualitas yang benar-benar baik.

Dampak multitasking terhadap konsentrasi cukup besar. Semakin sering berpindah tugas, semakin sulit menjaga fokus. Konsentrasi yang terpecah membuat otak bekerja lebih lambat, sehingga waktu yang dihabiskan justru lebih panjang dibanding mengerjakan satu hal secara penuh.

Kesalahan kecil yang sering terjadi karena tidak fokus juga menjadi konsekuensi. Salah mengetik, salah hitung, atau lupa detail penting adalah hal yang umum ketika multitasking. Kesalahan kecil ini, jika menumpuk, bisa berakibat besar pada hasil akhir.

Selain itu, multitasking juga bisa menimbulkan rasa lelah mental. Otak yang terus dipaksa berpindah-pindah akan cepat jenuh. Akibatnya, motivasi menurun dan rasa stres meningkat.

Pentingnya deep work dan fokus penuh menjadi solusi. Deep work adalah kondisi ketika seseorang benar-benar tenggelam dalam satu pekerjaan tanpa gangguan. Dengan fokus penuh, kualitas kerja meningkat, waktu lebih efisien, dan hasil lebih memuaskan.

Fenomena multitasking mengingatkan kita bahwa sibuk tidak selalu berarti produktif. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bukan sekadar banyak.

Pada akhirnya, meninggalkan kebiasaan multitasking dan beralih ke fokus penuh adalah langkah bijak. Dengan begitu, kita bisa bekerja lebih tenang, lebih berkualitas, dan lebih bermakna. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#produktivitas #multitasking #skill #pekerjaan #modern