Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penemuan Perahu Besi Kuno 22 Meter di Bengawan Solo: Bukti Autentik Jalur Dagang Masa Lalu Jawa

Amaliya Syafithri • Rabu, 20 Mei 2026 | 20:22 WIB
Ilustrasi temuan perahu besi di Bengawan Solo. ( Instagram @bjnperfect)
Ilustrasi temuan perahu besi di Bengawan Solo. ( Instagram @bjnperfect)

RADARTUBAN - Misteri dan kekayaan sejarah yang terkubur di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo kembali terkuak. 

Penemuan sebuah struktur perahu kuno berbahan pelat besi dengan ukuran panjang mencapai 22 meter berhasil menghebohkan masyarakat dan para pemerhati sejarah. 

Struktur perahu raksasa ini ditemukan tertanam di kawasan bantaran sungai purba yang membelah wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Penemuan perahu besi berukuran besar ini diyakini bukan sekadar artefak transportasi air biasa. 

Baca Juga: Pertikaian Nelayan Pasuruan Berujung Anarkis, Empat Perahu Hangus Dibakar Massa di Pelabuhan Kratons

Para ahli kepurbakalaan dan sejarawan menduga kuat bahwa keberadaan perahu besi raksasa ini menjadi bukti autentik yang menguatkan eksistensi jalur perdagangan kuno di pedalaman Pulau Jawa. 

Penemuan ini mempertegas fakta bahwa Sungai Bengawan Solo pada masa lampau merupakan urat nadi transportasi logistik militer dan ekonomi yang sangat vital.

Keterkaitan perahu besi ini dengan sejarah masa lalu diperkuat oleh berbagai temuan benda cagar budaya lainnya di lokasi sekitar penemuan. 

Di kawasan bantaran tersebut, para peneliti sebelumnya juga menemukan benda-benda komoditas bernilai tinggi dari masa lampau, seperti nampan berbahan logam dengan motif sulur-suluran yang halus, serta ribuan pecahan porselen kuno. 

Fragmen porselen tersebut diidentifikasi berasal dari luar Nusantara, di antaranya porselen Cina peninggalan Dinasti Yuan dan Dinasti Ching, porselen Jepang, hingga keramik kuno asal Eropa.

Keberadaan kapal besar berpelat besi ini diduga erat kaitannya dengan aktivitas kongsi dagang Hindia Belanda (VOC) maupun aktivitas penyeberangan sungai pada era kerajaan-kerajaan besar di Jawa. 

Ukurannya yang mencapai puluhan meter mengindikasikan bahwa kapal ini digunakan untuk mengangkut barang dagangan dalam kapasitas tonase besar dari pelabuhan pantai utara menuju wilayah pedalaman Jawa atau sebaliknya.

Temuan bersejarah ini sekaligus memberikan dukungan kuat terhadap isi naskah kuno Prasasti Canggu yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. 

Dalam prasasti tersebut, wilayah-wilayah di tepian Bengawan Solo tercatat sebagai titik "Naditirapradeca", yaitu desa-desa pelabuhan atau tempat penyeberangan resmi yang mendapatkan hak istimewa dari kerajaan karena perannya dalam roda ekonomi maritim dan agraris pedalaman.

Saat ini, sisa-sisa struktur perahu besi bersejarah tersebut telah mendapatkan perhatian khusus dari dinas kebudayaan serta komunitas pelestari cagar budaya setempat. 

Upaya penyelamatan, inventarisasi, dan penelitian lebih mendalam terus dilakukan guna mengungkap kronologi angka tahun pembuatan kapal serta rute pelayaran terakhir yang dilaluinya sebelum akhirnya karam dan terkubur di dasar sungai legendaris Jawa tersebut. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#perahu kono #Bojonegoro #sungai bengawan solo #besar