Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ancaman Baru Swafoto: Pakar Keamanan Siber Ingatkan Bahaya Ekstraksi Sidik Jari dari Foto Pose "Peace" Beresolusi Tinggi

Amaliya Syafithri • Jumat, 22 Mei 2026 | 12:50 WIB
Ilustrasi pose peace. (Pinterest)
Ilustrasi pose peace. (Pinterest)

RADARTUBAN - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat pesat tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga melahirkan celah kejahatan siber yang kian canggih dan mengkhawatirkan. 

Salah satu fenomena yang kini tengah menjadi sorotan tajam para pakar keamanan digital global adalah risiko pencurian data biometrik melalui aktivitas yang sangat kasual, yakni swafoto (selfie). 

Para ahli memperingatkan bahwa berpose menggunakan gaya dua jari berbentuk huruf V (V-sign atau pose peace) serta gaya finger heart yang populer, kini dapat dieksploitasi oleh peretas untuk menggandakan sidik jari korban secara akurat.

Ancaman ini menjadi nyata seiring dengan semakin tingginya spesifikasi kamera ponsel pintar modern yang mampu menangkap detail gambar dengan resolusi sangat tinggi (HD hingga Ultra HD). 

Baca Juga: Foto Dipakai di Kemasan TV, Dua Lipa Seret Samsung ke Pengadilan

Ketika seseorang mengunggah foto dirinya dengan jari yang menghadap langsung ke arah kamera di media sosial, gambar tersebut membawa data visual yang sangat jernih. 

Dengan bantuan algoritma pemrosesan gambar berbasis AI, pelaku kejahatan siber dapat dengan mudah memperbesar (zoom) area ujung jari kaki atau tangan tersebut, meningkatkan kontrasnya, dan merekonstruksi ulang garis-garis unik sidik jari korban secara digital.

Data sidik jari hasil ekstraksi ilegal ini memiliki konsekuensi keamanan yang sangat fatal. 

Di era modern ini, sidik jari telah menjadi basis utama sistem verifikasi biometrik, mulai dari akses membuka kunci ponsel, otentikasi aplikasi perbankan digital (m-banking), hingga sistem keamanan pintu rumah pintar. 

Sekali data biometrik ini bocor dan berhasil digandakan ke dalam bentuk cetakan silikon atau replika digital, korban tidak akan bisa mengubah nilai keamanan tersebut layaknya mengganti kata sandi atau password konvensional yang berupa teks.

Untuk mengantisipasi ancaman keamanan tingkat tinggi ini, para pengguna media sosial diimbau untuk lebih bijak dan berhati-hati sebelum membagikan foto pribadi mereka ke ranah publik. 

Hindari mengambil swafoto dengan jarak yang terlalu dekat dengan kamera jika sedang melakukan pose yang mengekspos telapak atau ujung jari. 

Selain itu, mengaktifkan fitur otentikasi dua faktor (2FA) yang menggunakan kode dinamis eksternal sangat disarankan sebagai lapisan pelindung tambahan, sehingga keamanan data finansial dan privasi digital tetap terjaga dari intaian teknologi AI yang disalahgunakan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gaya dua jari #AI #Pose #kejahatan siber #foto