Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Meneladani Kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi: Ratu Tangguh Pembuka Kejayaan Majapahit 

Amaliya Syafithri • Minggu, 24 Mei 2026 | 12:20 WIB
Ilustrasi Tribhuwana Tunggadewi. (Radar Majapahit)
Ilustrasi Tribhuwana Tunggadewi. (Radar Majapahit)

RADARTUBAN - Sejarah panjang Nusantara mencatat sebuah era keemasan di mana seorang pemimpin perempuan berhasil membawa stabilitas politik luar biasa bagi kemajuan sebuah kerajaan besar. 

Sosok tersebut adalah Tribhuwana Tunggadewi, Ratu ketiga Kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1328 hingga 1350 Masehi. 

Dia naik takhta menggantikan saudara tirinya, Jayanegara, dan memimpin dengan gelar Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Baca Juga: Belajar Dari Majapahit, Puncak Kejayaan dari Ekonomi Hingga Pembentukan Dewan Khusus Hukum dan Agama

Kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi menjadi bukti nyata bahwa sejak zaman dahulu, kaum perempuan memiliki kapasitas yang setara dalam memegang kendali kekuasaan tertinggi di ranah politik maupun militer. 

Pada awal masa pemerintahannya, Majapahit dihadapkan pada berbagai pergolakan internal yang cukup hebat, termasuk pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331. 

Dengan ketegasan dan kecerdasan strategis yang dimilikinya, sang ratu berhasil meredam seluruh konflik tersebut dan mengembalikan kedamaian di tanah Jawa.

Salah satu momentum paling bersejarah pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi adalah pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Mangkubumi. 

Di hadapan sang ratu, Gajah Mada mengikrarkan "Sumpah Palapa" yang sangat monumental, sebuah visi besar untuk menyatukan wilayah-wilayah di seluruh Nusantara di bawah panji kekuasaan Majapahit. 

Tribhuwana mendukung penuh ambisi visioner ini dan ikut memimpin ekspansi militer untuk memperluas pengaruh kerajaan hingga ke luar pulau Jawa.

Tribhuwana Tunggadewi memutuskan turun takhta secara sukarela setelah ibundanya, Gayatri Rajapatni, wafat pada tahun 1350. 

Ia kemudian menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya yang masih muda, Hayam Wuruk. 

Warisan kepemimpinan yang ditinggalkan oleh Tribhuwana menjadi fondasi yang sangat kokoh bagi Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada untuk membawa Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan mutlak sebagai imperium terbesar di Asia Tenggara. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#majapahit #nusantara #kerajaan majapahit