Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gatotkaca: Kisah Epik sang Ksatria Pringgandani yang Gugur di Medan Baratayuda

Amaliya Syafithri • Minggu, 24 Mei 2026 | 11:29 WIB
Ilustrasi Gatotkaca. (RADAR TUBAN/AI)
Ilustrasi Gatotkaca. (RADAR TUBAN/AI)

RADARTUBAN - Dalam jagat pewayangan Jawa, nama Gatotkaca menempati posisi yang sangat terhormat sebagai simbol keberanian, patriotisme, dan kesetiaan tanpa batas. 

Dikenal dengan julukan "Otot Kawat Balung Wesi", putra dari Raden Werkudara (Bima) dan Dewi Arimbi ini memiliki kemampuan luar biasa untuk terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap. 

Sebagai ksatria tangguh dari kesatrian Pringgandani, dia memegang peran krusial dalam perang saudara terbesar, yakni Perang Baratayuda di Padang Kurusetra.

Klimaks dari pengorbanan agung Gatotkaca terjadi ketika malam hari, saat pertempuran antara keluarga Pandawa dan Kurawa mencapai titik paling genting. 

Baca Juga: Wayang sebagai Aset yang Diakui UNESCO Terancam Redup di Tengah Menurunnya Minat Generasi Muda

Pihak Kurawa yang mulai terdesak akhirnya mengandalkan Adipati Karna, sang senopati agung yang memiliki senjata pusaka andalan yang tak pernah meleset, Kontawijaya. 

Gatotkaca ditunjuk menjadi panglima perang karena kemampuannya terbang tinggi di atas awan, menjadikannya target yang sangat sulit dijangkau oleh pasukan darat Kurawa pada malam yang pekat.

Melihat kekacauan yang ditimbulkan oleh Gatotkaca, Adipati Karna terpaksa melepaskan senjata pamungkasnya, Panah Konta. 

Meskipun Gatotkaca telah terbang sangat tinggi menyelinap di balik pekatnya awan langit, garis takdir menentukan bahwa senjata tersebut berhasil menjangkaunya dengan bantuan roh pamannya, Kalabendana. 

Detik-detik sebelum gugur, Gatotkaca menunjukkan kecerdikan strategisnya yang terakhir; ia sengaja menjatuhkan tubuh raksasanya tepat di atas kereta perang Adipati Karna dan ribuan prajurit Kurawa di bawahnya.

Gugurnya Gatotkaca membawa duka mendalam bagi seluruh keluarga besar Pandawa, terutama sang ayah, Bima. 

Namun, kematian sang ksatria langit ini tidaklah sia-sia, sebab senjata Konta milik Karna telah habis digunakan dan tidak bisa lagi dipakai untuk melawan Arjuna. 

Kisah kepahlawanan Gatotkaca mengajarkan nilai luhur mengenai kerelaan berkorban demi membela kebenaran serta kedaulatan tanah air tercinta dari angkara murka. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#gatotkaca #patriotisme #baratayuda #jawa