Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Unpopular Opinion: Fenomena Anak Muda Takut Menikah Sebenarnya Sudah Ada dari Dulu

M. Afiqul Adib • Selasa, 26 Mei 2026 | 18:58 WIB
ketakutan terhadap pernikahan yang bukan fenomena baru. (Yusuf Muttaqin on Unsplash)
ketakutan terhadap pernikahan yang bukan fenomena baru. (Yusuf Muttaqin on Unsplash)

RADARTUBAN - Ketakutan terhadap pernikahan bukan fenomena baru. Sejak dulu, banyak orang merasa ragu atau takut menghadapi komitmen besar ini. Bedanya, dulu ketakutan itu lebih sering dipendam, sementara sekarang lebih banyak dibicarakan secara terbuka.

Dulu dipendam, sekarang lebih banyak dibicarakan. Generasi sebelumnya mungkin enggan mengungkapkan keraguan karena tekanan sosial yang kuat. Menikah dianggap wajib, sehingga rasa takut jarang diutarakan. Kini, anak muda lebih berani menyuarakan keresahan mereka.

Faktor ekonomi dan tanggung jawab yang semakin berat menjadi alasan utama. Biaya hidup yang tinggi, harga rumah yang mahal, dan tuntutan finansial membuat pernikahan terasa seperti beban besar. Banyak anak muda khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi setelah menikah.

Baca Juga: Kisah Pemimpin Perempuan Malawi yang Berhasil Batalkan Ratusan Pernikahan Anak

Pengalaman keluarga yang ikut membentuk ketakutan juga berpengaruh. Melihat orang tua atau kerabat menghadapi konflik rumah tangga membuat sebagian anak muda ragu. Mereka takut mengulang pengalaman pahit yang pernah terjadi di lingkungannya.

Media sosial dan gambaran pernikahan yang tidak realistis turut memperkuat rasa takut. Foto-foto indah dan pesta mewah sering kali menimbulkan standar tinggi. Padahal, kehidupan pernikahan sehari-hari jauh lebih kompleks daripada sekadar pesta atau foto romantis.

Menikah bukan sekadar soal umur. Banyak anak muda menyadari bahwa usia tidak otomatis menjamin kesiapan. Lebih penting adalah kesiapan mental, emosional, dan finansial. Tanpa itu, pernikahan bisa menjadi sumber masalah baru.

Pentingnya kesiapan mental dan finansial menjadi inti dari fenomena ini. Anak muda ingin memastikan bahwa mereka benar-benar siap, bukan hanya mengikuti tekanan sosial. Dengan kesiapan yang matang, pernikahan bisa menjadi perjalanan yang lebih sehat dan membahagiakan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketakutan menikah bukanlah tren baru, melainkan suara yang kini lebih terdengar. Ia mencerminkan perubahan budaya: dari kewajiban yang dipaksakan, menjadi pilihan yang dipertimbangkan dengan lebih rasional.

Daripada dianggap sebagai kelemahan, ketakutan ini bisa dilihat sebagai bentuk kewaspadaan. Anak muda tidak ingin terburu-buru, melainkan memastikan bahwa langkah besar ini benar-benar sesuai dengan kesiapan mereka. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#menikah #trauma #ketakutan #pernikahan