RADARTUBAN - Dunia fauna menyimpan keajaiban berupa eksistensi burung albatros (Diomedeidae), sejenis burung laut raksasa yang sering kali dijuluki sebagai makhluk purba yang tersisa di zaman modern.
Burung ini memiliki catatan evolusi yang sangat panjang dan telah mengarungi wilayah samudra global selama jutaan tahun.
Karakteristik paling menakjubkan dari albatros adalah bentangan sayapnya yang merupakan salah satu yang terlebar di dunia, memungkinkan mereka untuk terbang bermil-mil di atas lautan lepas tanpa perlu mengepakkan sayap sama sekali.
Sebagai burung penjelajah sejati, albatros menghabiskan mayoritas masa hidupnya di atas permukaan laut dan hanya akan mendarat di pulau-pulau terpencil ketika musim kawin tiba untuk bertelur.
Mereka memanfaatkan teknik terbang layang dinamis dengan memanfaatkan energi angin laut, sehingga mampu menghemat energi tubuh secara efisien selama berminggu-minggu di udara.
Ketahanan fisik yang luar biasa ini membuat mereka mampu bermigrasi mengitari belahan bumi selatan demi mencari sumber makanan berupa cumi-cumi dan ikan kecil.
Sayangnya, keberadaan penguasa langit samudra ini sekarang tengah berada dalam kondisi yang sangat kritis dan terancam punah dari muka bumi.
Salah satu ancaman terbesar bagi populasi albatros datang dari aktivitas penangkapan ikan komersial dengan metode rawai panjang (_longline fishing_).
Burung albatros sering kali tidak sengaja menyambar umpan ikan yang dipasang pada ribuan mata pancing yang ditebar di laut, menyebabkan mereka tersangkut dan tenggelam di dalam air.
Selain masalah industri perikanan, krisis global polusi sampah plastik di laut juga menjadi faktor pembunuh massal bagi anakan burung albatros.
Burung dewasa sering kali salah mengenali serpihan sampah plastik berwarna cerah sebagai makanan, lalu menyuapkannya kepada anak-anak mereka di sarang.
Akumulasi sampah plastik yang tidak dapat dicerna di dalam lambung menyebabkan kematian akibat kelaparan dan malnutrisi.
Tanpa adanya regulasi perlindungan laut yang ketat, eksistensi burung penjelajah purba ini diprediksi akan lenyap dalam beberapa dekade mendatang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni