Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lagu Teh Hijau dari Tulus dan Fenomena Burnout pada Generasi Muda

M. Afiqul Adib • Kamis, 2 Juli 2026 | 17:12 WIB
Mencoba memaknai Single terbaru Tulus, Teh Hijau yang rilis 30 Juni 2026. (Sydney Latham/Unsplash)
Single terbaru Tulus berjudul Teh Hijau menghadirkan nuansa reflektif tentang kehilangan antusiasme hidup. (Kat von Wood/Unsplash)
RADARTUBAN - Tulus kembali menghadirkan karya terbaru yang penuh makna. Pada Senin, 30 Juni 2026, ia resmi merilis single berjudul Teh Hijau.

Seperti karya-karya sebelumnya, lagu ini tidak hanya menyajikan melodi indah, tetapi juga menyentuh sisi emosional pendengarnya.

Kali ini, Tulus berbicara tentang fase kehilangan semangat, sebuah kondisi yang sangat relevan dengan fenomena burnout yang banyak dialami generasi muda.

Burnout sering dipahami sebagai kelelahan akibat pekerjaan. Namun, kenyataannya, burnout tidak hanya terjadi di tempat kerja. Generasi muda menghadapi tekanan dari berbagai sisi: akademik, sosial, hingga ekspektasi pribadi.

Baca Juga: 8 Tanda Permintaan Maaf Tidak Tulus Menurut Psikologi, Jangan Terkecoh

Rutinitas yang berulang, tuntutan untuk selalu produktif, dan perasaan harus terus berprestasi membuat banyak orang kehilangan antusiasme.

Lirik Teh Hijau menggambarkan kondisi ini dengan jujur. Ada fase ketika seseorang merasa hampa, meski dari luar hidupnya tampak baik-baik saja. Kehilangan semangat membuat mereka sulit menikmati hal-hal yang dulu menyenangkan.

Aktivitas yang biasanya memberi energi, seperti berkumpul dengan teman atau mengejar hobi, tiba-tiba terasa hambar.

Fenomena ini erat kaitannya dengan rutinitas yang berulang. Ketika hidup hanya diisi dengan kewajiban tanpa ruang untuk jeda, seseorang bisa merasa terjebak dalam siklus yang melelahkan.

Lagu Teh Hijau seakan menjadi cermin bagi generasi muda yang merasakan hal ini: bahwa kehilangan semangat bukanlah hal asing, melainkan bagian dari perjalanan hidup.

Namun, di balik nuansa hampa, lagu ini juga menyimpan pesan pemulihan. Tulus seakan mengingatkan bahwa ada cara untuk mulai bangkit. Salah satunya adalah dengan memulai memulihkan diri.

Pemulihan tidak harus besar atau instan; dia bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, memberi waktu untuk diri sendiri, melakukan ritual kecil seperti menikmati secangkir teh, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah.

Pesan ini penting karena generasi muda sering merasa harus selalu produktif. Padahal, berhenti sejenak bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses bertumbuh. Kehampaan bisa menjadi ruang refleksi, kesempatan untuk mengenali diri, dan jalan menuju semangat baru.

Dengan Teh Hijau, Tulus berhasil mengangkat isu yang dekat dengan realitas anak muda masa kini. Lagu ini bukan hanya tentang kehilangan cinta, melainkan tentang kehilangan energi hidup.

Baca Juga: Ingin Rambut Lebih Lebat dan Kuat Secara Alami? Ini Teknik Rahasia Perawatan Rambut Menggunakan Teh Hijau

Dia mengajarkan bahwa burnout adalah pengalaman manusiawi, dan pemulihan adalah perjalanan yang layak dirayakan.

Lagu Teh Hijau Tulus merefleksikan fenomena burnout pada generasi muda: kehilangan semangat, rutinitas berulang, dan sulit menikmati hal-hal yang dulu menyenangkan.

Namun, lagu ini juga memberi pesan bahwa pemulihan bisa dimulai dari hal sederhana. Kehampaan bukan akhir, melainkan bagian dari proses bertumbuh. Dengan menerima kondisi itu, kita bisa perlahan menemukan kembali makna dan semangat hidup. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#egnerasi muda #teh hijau #tulus #akademik