Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tak Hanya Pesta Babi, Inilah Sederet Film yang Dianggap Kontroversial di Tanah Air

Yudha Satria Aditama • Kamis, 9 Juli 2026 | 14:03 WIB
Dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono bukan satu-satunya film kontroversial yang pernah ada, tapi juga ada lainnya. (RADAR TUBAN)
Dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono bukan satu-satunya film kontroversial yang pernah ada, tapi juga ada lainnya. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Layar sinema tidak sekadar memproyeksikan visual estetis, melainkan kerap menjadi cermin retak yang menangkap realitas paling tabu dalam masyarakat.

Di Indonesia, batas-batas norma sosial, sensitivitas keagamaan, panggung politik, hingga isu keadilan ekologis berulang kali diuji melalui sensor dan opini publik. Hasilnya, gelombang boikot, petisi daring, pembubaran paksa, hingga pelaporan polisi menjadi bumbu yang mewarnai perjalanan distribusinya.

Lini dokumenter investigatif baru-baru ini diguncang oleh karya kolaborasi Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale bersama Watchdoc yang berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Dokumenter ini secara telanjang membongkar dampak destruktif Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate di Papua Selatan yang melahap jutaan hektare hutan adat. 

Baca Juga: Ibnu Jamil Ungkap Pengalaman Pertama Voice Acting di Film Animasi Garuda di Dadaku

Sejak peluncurannya, film ini langsung menghadapi tembok tebal kekuasaan; mulai dari pembubaran paksa sesi nonton bareng di sejumlah kampus, penolakan keras organisasi kepemudaan, hingga laporan resmi ke Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran data pribadi tokoh adat yang terlibat.

Langkah hukum ini dicurigai koalisi masyarakat sipil sebagai upaya sistematis untuk mengaburkan substansi penindasan di tanah Papua.

Mundur ke belakang, mahakarya sutradara Garin Nugroho bertajuk Kucumbu Tubuh Indahku juga sempat menghadapi badai penolakan yang luar biasa di dalam negeri.

Mengangkat kisah puitis namun getir tentang perjalanan hidup seorang penari Lengger Lanang asal Banyumas yang mengeksplorasi dualitas gender dan trauma masa kecil, film ini memantik petisi daring yang ditandatangani ratusan ribu orang.

Kendati sukses memborong delapan Piala Citra pada FFI 2019, sejumlah pemerintah daerah secara resmi melarang pemutaran film ini karena dituding secara terang-terangan mengampanyekan nilai-nilai LGBTQ+.

Sensitivitas serupa juga melanda lini sinema horor komersial melalui film Thagut karya sutradara Bobby Prasetyo. Sebelum berganti judul demi meredam amarah publik, film produksi Leo Pictures ini awalnya memicu kontroversi ekstrem lewat materi promosi awal yang menggunakan judul Kiblat.

Poster film yang menampilkan visual mengerikan seorang perempuan mengenakan mukena dalam posisi rukuk tetapi wajahnya menghadap ke atas dianggap mengeksploitasi ritual suci ibadah umat Islam demi komoditas ketakutan. 

Respons keras dari masyarakat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya memaksa rumah produksi meminta maaf, menurunkan poster, dan merombak total identitas judul film sebelum tayang.

Sementara itu, dari tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur, sutradara Mouly Surya mendobrak pakem patriarki lewat Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Mengikuti perjalanan seorang janda yang mempertahankan martabatnya dengan cara memenggal kepala otak pemerkosanya, film ini menghadirkan narasi feminisme yang dingin dan lugas.

Baca Juga: Film Animasi KPop Demon Hunters Masuk Koleksi Kriteria Eksklusif

Visualisasi kepala manusia yang terpenggal dan dibawa sepanjang jalan sempat memicu perdebatan sensor yang sangat alot di Lembaga Sensor Film (LSF) terkait batas adegan sadisme, meski di kancah global film ini justru banjir pujian sebagai simbol perlawanan perempuan akar rumput.

Kontroversi yang berbuah manis dialami oleh film Dua Garis Biru besutan sutradara Gina S. Noer.

Begitu trailer perdananya dilepas ke publik, gelombang protes langsung menyeruak melalui petisi boikot yang menuduh film ini mempromosikan seks bebas di kalangan remaja lewat kisah kehamilan di luar nikah. Namun, peta opini publik berbalik seratus delapan puluh derajat saat filmnya resmi tayang di bioskop. 

Alih-alih menuai hujatan, film ini justru banjir apresiasi dari kalangan pendidik dan psikolog karena dinilai sukses menyampaikan pesan edukasi seksual yang sangat jujur, penting, sekaligus menjadi tamparan keras bagi orang tua tanpa ada kesan menggurui. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Pesta Babi #kontroversial #film