RADARTUBAN- Pernahkah Anda secara tidak sengaja melihat bentuk wajah tersenyum pada colokan listrik, pola mata dan mulut di batang pohon, atau sosok hewan pada formasi awan di langit?
Banyak orang yang mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal gaib atau kejadian mistis. Namun, dari sudut pandang sains dan psikologi, hal tersebut merupakan kondisi medis dan psikologis yang sepenuhnya normal dan umum terjadi.
Mengenal Fenomena Psikologis Bernama Pareidolia
Kecenderungan manusia untuk melihat struktur menyerupai wajah atau sosok makhluk hidup pada objek benda mati dikenal dengan istilah Pareidolia.
Fenomena ini diklasifikasikan sebagai sebuah ilusi visual atau kekeliruan persepsi manusia dalam memaknai gambar dari sebuah objek acak.
Otak kita menerima stimulus visual yang sebenarnya ambigu atau tidak beraturan, namun secara spontan memproses dan menerjemahkannya sebagai bentuk visual yang nyata dan familiar bagi ingatan kita.
Mekanisme Alami Otak dalam Mendeteksi Wajah
Secara biologis dan evolusioner, otak manusia memang telah dirancang secara khusus untuk menjadi sangat sensitif terhadap pengenalan pola, terutama fitur wajah.
Bagian otak manusia yang bertugas memproses wajah asli akan langsung aktif bekerja dan "terkecoh" ketika melihat pola yang mirip seperti dua mata dan satu mulut pada benda di sekitar kita.
Mekanisme jalan pintas ini bekerja secara otomatis agar manusia bisa mengenali sesama atau mendeteksi potensi ancaman di lingkungan sekitar dengan lebih cepat.
Dipengaruhi oleh Faktor Suasana Hati dan Emosi
Munculnya pareidolia juga dilaporkan memiliki kaitan erat dengan dimensi kepribadian, kondisi emosional, serta suasana hati seseorang.
Seseorang yang sedang berada dalam kondisi mood positif yang kreatif, atau sebaliknya, sedang mengalami tingkat kecemasan (neurotisme) dan rasa kesepian yang tinggi, cenderung memiliki kepekaan sensorik yang lebih sering memicu terjadinya ilusi visual ini.
Fenomena ini tidak berbahaya, kecuali jika frekuensinya mulai berlebihan hingga menimbulkan ketakutan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni