Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Misteri Lighthouse Madness, Sisi Kelam Dibalik Kegilaan Penjaga Mercusuar

Vannya Alysa P • Kamis, 16 Juli 2026 | 15:32 WIB
Bukan cuma isolasi ekstrem, sains ungkap fenomena kegilaan penjaga mercusuar kuno akibat keracunan uap merkuri cair yang memicu delusi hebat.
Bukan cuma isolasi ekstrem, sains ungkap fenomena kegilaan penjaga mercusuar kuno akibat keracunan uap merkuri cair yang memicu delusi hebat.

RADARTUBAN - Tiga abad yang lalu tepatnya pada abad ke-18 dan ke-17 laut merupakan tempat yang kejam bagi para pelaut yang melakukan pelayaran maritim dunia.

Banyak kapal yang hanyut bukan karena cuaca atau dihantam angin topan, namun karena lambung kayunya menabrak karang tajam akibat buruknya navigasi yang ada. 

Demi menyelamatkan armada dan ribuan barang dagang menara-menara mercusuar mulai dibangun di lokasi yang secara geografis merupakan tempat yang tidak cocok dihuni oleh manusia. Mulai dari tanjung berbatu sampai pulau terpencil di tengah samudra.

Baca Juga: AC Milan dan Fiorentina Berebut Gelandang Real Madrid Thiago Pitarch, Masa Depannya Masih Misterius

Namun cahaya-cahaya yang menuntun kapal kapal tersebut memiliki fenomena kelam yang kerap dicatat di buku-buku sejarah dimana para penjaga yang sedikit demi sedikit kehilangan kewarasan mereka.

Salah satu misteri yang paling populer pada Desember 1990. Tiga pria penjaga berpengalaman lenyap begitu saja dari menara mereka tanpa meninggalkan jejak.

Ketika tim penyelamat datang, mereka menemukan pintu terkunci dari dalam, lampu dalam keadaan bersih siap pakai, namun ada catatan aneh di buku log sebelum mereka menghilang. Salah satu penjaga menuliskan tentang ketakutan luar biasa, tangisan, dan doa bersama akibat badai dahsyat yang melanda pulau.

Keanehan memuncak karena catatan kapal-kapal yang melintas justru menunjukkan bahwa cuaca pada hari itu normal dan sama sekali tidak ada badai. Dari sinilah istilah mercusuar madness (kegilaan mercusuar) mulai menjadi perhatian besar.  

Selama bertahun-tahun masyarakat mengira bahwa gangguan jiwa yang dialami oleh para penjaga disebabkan oleh isolasi ekstrem. Hidup di pulau terpencil bersama dua atau tiga orang saja di ruangan beton tinggi yang sempit selama berminggu-minggu dapat menimbulkan tekanan batin yang berat.

Ditambah lagi dengan tiupan angin kencang dan suara deburan ombak tanpa henti yang menyalakan imajinasi manusia yang kesepian kearah negatif.

Akan tetapi sains modern berhasil menyingkap sebuah faktor kimia berbahaya yang menjadi lapisan pelindung sekaligus perusak utama dari dalam tubuh mereka yaitu merkuri cair.

Pada masa itu, demi membuat lensa raksasa mercusuar dapat berputar dengan halus menggunakan tenaga yang kecil, para insinyur menempatkan seluruh sistem lensa di atas bak berisi merkuri cair. Para penjaga setiap hari berurusan dengan zat berbahaya ini tanpa menggunakan masker atau baju pelindung.

​Akibatnya, merkuri menguap di dalam ruangan tertutup dan perlahan masuk ke paru-paru mereka. Keracunan merkuri kronis ini memicu gangguan saraf berat yang secara medis disebut erithism.

Gejala awalnya berupa sakit kepala dan insomnia, yang kemudian berkembang menjadi kecemasan ekstrem, paranoia, delusi, halusinasi, hingga agresi mendadak. Bahkan, racun ini membuat tangan mereka bergetar sehingga tulisan tangan di buku log berubah bentuk dari hari ke hari.

Kombinasi ini menyebabkan pikiran para penjaga mercusuar tenggelam dalam paranoia karena paparan racun dan juga beban mental berlebih yang didapat dari kondisi mercusuar itu sendiri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
mercusuar penjaga Geografis fenomena