Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Predator Paling Ganas di Laut, tapi Mengapa Orca Tidak Pernah Menyerang Manusia?

Vannya Alysa P • Kamis, 16 Juli 2026 | 18:25 WIB
Tak pernah mangsa manusia di alam liar karena faktor ekolokasi dan tipisnya lemak, stres akibat dinding beton penangkaran justru bisa picu Orca jadi agresif.
Tak pernah mangsa manusia di alam liar karena faktor ekolokasi dan tipisnya lemak, stres akibat dinding beton penangkaran justru bisa picu Orca jadi agresif.

RADARTUBAN - Orca kerap kali disebut sebagai raja lautan, predator paling tinggi dalam rantai makanan di kedalaman lautan.

Meski dinobatkan sebagai raja dari rantai makanan di lautan orca tidak pernah menyerang manusia. Tidak ada satupun catatan mengenai orca secara spesifik memburu dan memangsa manusia. Fenomena ini ternyata bukan kebetulan semata melainkan hasil dari kemampuan biologis bawaan makhluk ini.

Orca memiliki kemampuan yang disebut sebagai ekolokasi. Berbeda dengan hiu yang sering sering salah memangsa manusia karena mengira kita adalah anjing laut akibat keterbatasan penglihatan mereka, orca memiliki sonar presisi untuk membedakan manusia dan anjing laut.

Baca Juga: Laut Selatan, Wilayah Perairan Yang Paling Ditakuti: Fakta Alam dan Mitos yang Membayangi Pesisir Jawa

Pertama mereka akan meluncurkan gelombang suara frekuensi tinggi dan gelombang frekuensi ini akan memantul kembali dan memberikan mereka informasi yang detail ke dalam otak orca.

Hebatnya kemampuan ini bahkan sampai dapat menembus pakaian, daging hingga struktur tubuh makhluk hidup yang mereka deteksi. Saat gelombang sonar ini mengenai manusia orca akan mendapat informasi komposisi tubuh manusia yang terdiri dari tulang belakang sampai paru-paru secara instan.

Dari analisis presisi itulah orca menilai bahwa manusia bukanlah mangsa yang tepat untuk santapan mereka. Manusia dinilai memiliki kadar lemak yang tipis sementara orca membutuhkan asupan energi yang tinggi untuk kebutuhan metabolisme mereka.

Manusia sederhananya tidak cocok bila dimasukan dalam menu makanan orca apabila disandingkan dengan paus atau anjing laut yang memiliki massa lemak lebih banyak.

Beberapa kasus dimana orca menyerang manusia adalah pada saat mereka mengalami zoochosis atau keadaan mental agresif hewan penangkaran karena stress berlebih.

Sonar yang digunakan orca di laut lepas tanpa adanya hambatan buatan manusia, sementara sinyal sonar mereka dalam penangkaran terus memantul karena adanya pembatas dinding beton datar yang menyebabkan mereka seolah mendengarkan teriakan mereka menggema tanpa henti.

Keadaan yang membuat mereka tertekan ini melahirkan zoochosis yang berakhir pada penyerangan pada manusia seperti di kisah Tilikum—nama orca yang menyerang pelatihnya sendiri di SeaWorld Orlando pada tahun 2010.

Pada akhirnya kemampuan ekolokasi yang luar  biasa presisi inilah yang membuat orca dapat membedakan manusia dari mangsa mereka. Berkat yang diberikan kepada orca ini membuat makhluk pintar ini tidak pernahs salah buruan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
anjing laut biologis orca predator