RADARTUBAN - Mungkin banyak yang masih asing dengan nama “Love and Deep Space”, sebuah game garapan Cina yang bergenre simulasi romantis atau kerap disebut sebagai (otome game).
Infold—studio developer dari game “Love and Deep Space” seiring waktu merilis karakter yang berperan sebagai Love Interest atau (LI) untuk menggaet lebih banyak wanita untuk memainkan game mereka.
Beberapa pemain bahkan rela untuk menginvestasikan waktu dan juga finansial mereka untuk mendapat konten interaktif dari karakter favorit mereka.
Baca Juga: Gedung Putih Angkat Bicara Usai Paus Leo Sentil Pemimpin Dunia yang Picu Perang
Namun secara mendadak game ini menjadi pusaran konflik setelah mencoba untuk merilis karakter baru bernama Valko. Awalnya karakter ini dirilis untuk menyegarkan dinamika permainan yang selama ini hanya berpusat pada lima karakter.
Bila dilihat, rencana ini memang terdengar strategis untuk menggaet lebih banyak pemain, namun protes mulai berhadiran dari berbagai pihak secara serempak hingga menyebabkan pembatalan rilis karakter baru ini.
Gelombang pertama terjadi dalam internal masing-masing pemain yang merasa Infold terburu-buru dalam meluncurkan karakter baru tanpa memperdulikan cerita utama (main story) karakter lain yang dirasa kurang ditelusuri lebih dalam dan menyeluruh.
Pengembangan tiap-tiap karakter dirasa ‘menggantung' membuat para pemain yang telah menghabiskan waktu dan finansial mereka merasa kurang puas.
Di titik ini ketegangan mulai terbangun di antara para pemain, permasalahan yang awalnya bermula dari sesama pemain merembet pada krisis sosial budaya saat para pemain—khususnya dari wilayah Cina, mulai meneliti karakter Valko secara mendalam.
Kontroversi terbesar pecah ketika para pemain menemukan kode 731 dalam materi cerita Valko yang terlihat biasa saja bagi pemain luar. Namun, bagi publik Asia Timur khususnya Cina angka 731 merupakan kenangan kelam di masa malu yang merupakan kode untuk divisi eksperimen manusia milik Jepang selama Perang Dunia II.
Beberapa dialog yang Valko juga dicurigai menyinggung kekerasan fatal terhadap perempuan yang pernah terjadi di Cina.
Melihat rating game mereka dalam berbagai platform sosial media yang merosot dalam waktu yang singkat Infold melakukan keputusan yang jarang terjadi dalam industri game yaitu secara secara keseluruhan membatalkan perlisan karakter Valko.
Langkah ini diambil sebagai permintaan maaf terbuka demi meredam kemarahan pasar Cina yang menguasai 80 persen pangsa pasar secara global. Tindakan krusial ini diambil untuk mempertahankan pasar mereka di Cina daripada harus memuaskan 20 persen penggemar barat yang telah menantikan perilisan Valko.
Pada akhirnya tragedi pembatalan Valko ini bisa dijadikan pelajaran penting di era industri global bahwa kekuatan massif pasar dapat berimbas buruk untuk reputasi perusahaan telah dibangun dalam waktu yang lama dalam hitungan jam saja karena perusahaan gagal memperhatikan aspek budaya, sosiologi, dan juga etika sejarah. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban