Mengenal Paradoks Jevons, Teori yang Menjelaskan Efisiensi Bisa Memicu Pemborosan Energi

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 18:11 WIB
Paradoks Jevons menunjukkan bahwa teknologi yang semakin efisien justru dapat meningkatkan konsumsi energi. (Tangkapan layar youtube)
Paradoks Jevons menunjukkan bahwa teknologi yang semakin efisien justru dapat meningkatkan konsumsi energi. (Tangkapan layar youtube)

RADARTUBAN- Selama ini efisiensi teknologi sering dianggap sebagai solusi untuk menghemat penggunaan energi dan sumber daya alam.

Namun, dalam teori ekonomi terdapat sebuah konsep yang justru menunjukkan hasil sebaliknya. Konsep tersebut dikenal sebagai Paradoks Jevons (Jevons Paradox), yaitu kondisi ketika peningkatan efisiensi justru mendorong konsumsi sumber daya menjadi lebih besar.

Fenomena ini pertama kali diamati pada abad ke-19 ketika Britania Raya mengalami revolusi industri. Saat itu, batu bara menjadi sumber energi utama yang menggerakkan berbagai mesin industri.

Di tengah kekhawatiran akan menipisnya cadangan batu bara, insinyur asal Skotlandia, James Watt, mengembangkan mesin uap yang jauh lebih efisien dibanding teknologi sebelumnya.

Baca Juga: Resmi! Honda Rekrut David Alonso ke MotoGP, Calon Bintang Baru Siap Guncang Persaingan Musim 2027

Harapannya, penggunaan batu bara dapat ditekan sehingga sumber daya tersebut lebih hemat. Namun yang terjadi justru berkebalikan.

Mesin uap yang lebih efisien membuat biaya operasional menjadi lebih murah. Akibatnya, penggunaan mesin uap meluas ke berbagai sektor industri dan transportasi.

Salah satu contohnya adalah berkembangnya kereta api berbahan bakar batu bara yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis.

Efisiensi tersebut tidak mengurangi konsumsi batu bara, melainkan membuka peluang lahirnya berbagai aktivitas baru yang justru membutuhkan lebih banyak energi.

Fenomena inilah yang kemudian dikaji oleh ekonom Inggris William Stanley Jevons. Dalam pengamatannya, Jevons menyimpulkan bahwa peningkatan efisiensi tidak selalu berujung pada penghematan sumber daya.

Sebaliknya, efisiensi sering kali meningkatkan permintaan karena biaya menjadi lebih rendah dan teknologi semakin mudah diakses.

Konsep tersebut kini kembali relevan di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Kemampuan AI yang mampu mempercepat penulisan kode, membuat desain, hingga mengotomatisasi berbagai pekerjaan memang meningkatkan produktivitas. Namun, di sisi lain teknologi tersebut juga memicu munculnya lebih banyak aplikasi, layanan digital, dan pusat data yang membutuhkan daya listrik dalam jumlah besar.

Artinya, efisiensi yang dihasilkan AI berpotensi diikuti peningkatan konsumsi energi secara keseluruhan apabila penggunaan teknologi terus berkembang tanpa kendali.

Para ahli menilai bahwa efisiensi teknologi tetap memiliki manfaat besar, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya solusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Kesadaran masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak tetap menjadi faktor penting agar peningkatan efisiensi benar-benar menghasilkan penghematan, bukan justru mendorong konsumsi yang lebih besar.

Paradoks Jevons menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan perubahan perilaku dalam menggunakan sumber daya.

Tanpa pengendalian konsumsi, setiap inovasi yang dirancang untuk menghemat energi justru berpotensi menciptakan kebutuhan baru yang membuat penggunaan energi terus meningkat.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Efsiensi teknologi paradoks jevons joveons paradox menghemat energi