Pada abad ke-18, sejumlah wilayah seperti Serbia, Rumania, dan Yunani dilanda ketakutan akibat merebaknya wabah penyakit serta kematian yang terjadi secara beruntun.
Ketika tidak ada pengetahuan medis yang mampu menjelaskan penyebabnya, masyarakat mulai mencurigai orang-orang yang baru meninggal sebagai "mayat hidup" yang kembali mengganggu penduduk.
Kecurigaan tersebut mendorong warga menggali kembali makam kerabat yang baru dimakamkan. Saat liang kubur dibuka, mereka menemukan kondisi jenazah yang dianggap tidak wajar: tubuh tampak membengkak, kulit berubah warna menjadi lebih gelap, dan dari mulut atau hidung terlihat cairan menyerupai darah segar. Bagi masyarakat pada masa itu, temuan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa jenazah telah bangkit untuk mengisap darah manusia.
Kini, ilmu kedokteran forensik memberikan penjelasan yang sama sekali berbeda. Fenomena tersebut merupakan bagian alami dari proses pembusukan tubuh setelah kematian.
Ketika seseorang meninggal, terutama akibat infeksi atau cedera berat, darah tidak selalu langsung membeku. Seiring waktu, bakteri di dalam tubuh menghasilkan gas yang terus menumpuk di rongga perut.
Tekanan gas itu mendorong cairan tubuh, termasuk darah yang telah mencair, keluar melalui mulut maupun hidung. Dalam dunia medis, proses tersebut dikenal sebagai postmortem purge atau regurgitasi pascakematian.
Akumulasi gas yang sama juga menyebabkan tubuh tampak mengembang. Kondisi inilah yang kemudian disalahartikan sebagai tanda-tanda vampir dalam berbagai cerita rakyat. Gambaran tersebut justru bertolak belakang dengan citra vampir modern yang ramping, berkulit pucat, dan berpenampilan elegan.
Kepercayaan terhadap vampir juga dipengaruhi minimnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit menular. Pada masa ketika bakteri, virus, hingga mekanisme penularan wabah belum diketahui, masyarakat membutuhkan sosok yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai musibah.
Akibatnya, kematian mendadak, gagal panen, hingga merebaknya penyakit sering dikaitkan dengan keberadaan mayat yang dipercaya belum benar-benar "tenang". Jenazah yang dicurigai sebagai vampir bahkan kerap diperlakukan secara ekstrem, seperti ditusuk menggunakan kayu, dipenggal, atau dibakar agar diyakini tidak lagi mengganggu warga.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, berbagai fenomena yang dahulu dianggap sebagai bukti keberadaan vampir akhirnya dapat dijelaskan secara ilmiah.
Meski demikian, kisah tentang makhluk pengisap darah itu tetap bertahan sebagai bagian dari warisan folklor Eropa dan kemudian berevolusi menjadi salah satu ikon budaya populer paling terkenal di dunia.
Mitos vampir menjadi contoh bagaimana keterbatasan pengetahuan dapat melahirkan kepercayaan yang bertahan selama berabad-abad. Apa yang dahulu dianggap sebagai ancaman supranatural, kini dipahami sebagai proses biologis yang sepenuhnya alami. (*)