RADARTUBAN - Satu kejadian kolektif yang mungkin kita ingat adalah menonton film, atau serial TV modern dengan subtitle walau dalam bahasa ibu sendiri sekalipun.
Peristiwa ini terasa kontradiktif dengan pesatnya kemajuan teknologi. Mengapa film zaman dulu justru terasa lebih jelas dibandingkan dengan film modern?
Jawabannya bukan karena masalah pendengaran penonton yang kian memburuk, melainkan hasil dari perkembangan teknologi produksi film dari masa ke masa. Penyebab pertama bermula dari evolusi mikrofon dan gaya berakting.
Pada era awal sinema suara mikrofon berbentuk sangat besar, kaku, dan sensitif. Karena suara dari semua aktor direkam ke dalam satu jalur trek tunggal pada piringan lilin atau pita analog, para aktor dituntut untuk memproyeksikan suara mereka dengan sangat keras dan jelas ke arah mikrofon.
Baca Juga: Film Obsession, Horor Indie yang Guncang Hollywood dengan Raup Rp 4,8 Triliun dari Budget Minim
Gaya berakting pada masa itu terasa sangat teatrikal demi memastikan setiap kata dapat tertangkap oleh alat perekam.
Seiring berjalannya waktu, teknologi mikrofon berkembang menjadi jauh lebih kecil, nirkabel, dan fleksibel. Kemudahan teknis ini memberikan kebebasan bagi para aktor untuk berakting secara lebih natural. Mereka tidak perlu lagi berteriak atau memproyeksikan suara.
Aktor bisa berbisik atau bergumam, dengan keyakinan bahwa mikrofon kecil di dada mereka dapat menangkap suara tersebut. Namun, gaya akting yang natural ini seringkali mengorbankan kejelasan artikulasi kata bagi para pendengar.
Faktor kedua berhubungan dengan dinamika rentang suara (dynamic range). Dalam pembuatan film, dynamic range adalah jarak antara suara terpelan dan suara terkeras.
Demi menciptakan sensasi sinematik, para perancang suara ingin ledakan atau adegan aksi terasa sangat dahsyat. Namun, ada batas maksimal seberapa keras sebuah suara dapat diproduksi sebelum mengalami distorsi.
Akibatnya, untuk menciptakan kontras yang dramatis antara percakapan dan ledakan, para audio editor tidak menaikkan suara ledakan, melainkan menurunkan volume suara percakapan.
Hal ini membawa kita pada faktor ketiga sekaligus penyumbang masalah terbesar yaitu proses downmixing.
Film-film bioskop modern dirancang dan diolah untuk format suara surround sound tercanggih seperti Dolby Atmos, yang memiliki hingga 128 jalur audio independen untuk menciptakan suara tiga dimensi.
Namun, sebagian besar penonton menikmati film tidak di dalam bioskop berteknologi tinggi tersebut, melainkan di rumah melalui televisi, laptop, atau ponsel pintar. 128 jalur suara ini dipadatkan menjadi 12,1 lalu turun lagi menjadi 7,1 dan masih turun lagi ke stereo, atau mono audio yang memperparah suara percakapan menjadi hanya sekadar gumanan.
Baca Juga: Tak Hanya Pesta Babi, Inilah Sederet Film yang Dianggap Kontroversial di Tanah Air
Meskipun produsen TV modern mulai menyematkan fitur kecerdasan buatan untuk memperjelas vokal, solusi tersebut masih sebatas pertolongan pertama yang tidak menyelesaikan akar masalah.
Pada akhirnya, subtitle yang pada awalnya diciptakan untuk aksesibilitas penyandang disabilitas rungu, kini telah bertransformasi menjadi kebutuhan universal bagi hampir semua penonton di era digital. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban