Ciri Orang Cerdas: Mengapa 3 Kebiasaan Santai Ini Malah Menunjukkan IQ Tinggi?

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 11:12 WIB
Sering dikira malas, padahal ilmu psikologi mengungkap 3 kebiasaan santai ini justru menandakan tingkat kecerdasan dan efisiensi otak yang tinggi.
Sering dikira malas, padahal ilmu psikologi mengungkap 3 kebiasaan santai ini justru menandakan tingkat kecerdasan dan efisiensi otak yang tinggi.

RADARTUBAN — Perilaku seseorang yang terlihat kurang aktif atau cenderung santai tidak selalu menunjukkan sifat malas.

Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut justru dapat berkaitan dengan cara berpikir yang lebih efektif dalam mengambil keputusan maupun mengelola energi.

Sejumlah kajian psikologi menunjukkan bahwa beberapa perilaku yang selama ini dianggap negatif ternyata dapat menjadi gambaran dari pola pikir orang dengan kemampuan kognitif yang baik.

Mengutip Psychology Today, terdapat tiga kebiasaan yang sering disalahartikan sebagai kemalasan, padahal bisa menjadi indikator kecerdasan seseorang.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari Orang yang Sulit Dipercaya Berdasarkan Psikologi, Kenali Tanda-tandanya

1. Menghindari pekerjaan yang tidak diperlukan

Orang cerdas tidak selalu identik dengan bekerja lebih keras atau menghabiskan banyak tenaga untuk menyelesaikan sesuatu.

Sebaliknya, mereka cenderung mencari cara yang lebih efisien agar pekerjaan dapat dilakukan dengan hasil maksimal.

Dalam psikologi dikenal istilah efisiensi saraf (neural efficiency hypothesis), yaitu gagasan bahwa individu dengan kemampuan kognitif tinggi dapat menggunakan sumber daya otak secara lebih hemat saat menghadapi tugas yang kompleks.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola ini terlihat ketika seseorang memilih menyederhanakan pekerjaan, mengotomatiskan rutinitas, mempertanyakan aturan yang tidak efektif, atau mencari cara yang lebih praktis untuk menyelesaikan tugas.

Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut mungkin terlihat seperti malas. Namun, bisa jadi itu merupakan bentuk kemampuan dalam mengelola waktu dan energi secara lebih bijak.

2. Sering tidur dan mengambil waktu istirahat

Kebiasaan tidur lebih banyak, bangun lebih santai, atau menyempatkan tidur siang kerap mendapat anggapan negatif. Banyak orang masih menganggap waktu istirahat sebagai sesuatu yang mengurangi produktivitas.

Padahal, penelitian di bidang ilmu saraf menunjukkan bahwa tidur memiliki peran penting bagi fungsi otak. Saat tidur, otak tetap aktif memproses informasi, memperkuat ingatan, membantu menyimpan pengetahuan, serta mengembalikan kemampuan fokus.

Sejumlah penelitian juga menemukan adanya kaitan antara pola tidur yang baik dengan kemampuan kognitif yang lebih optimal.

Baca Juga: Mata Sering Gagal Fokus Saat Belajar? Kebiasaan Ini Bisa Membantu Menjaga Konsentrasi

Karena itu, seseorang yang tidak memaksakan diri terus bekerja dan memberi ruang untuk beristirahat belum tentu malas. Bisa jadi, ia memahami pentingnya menjaga kondisi tubuh dan pikiran agar tetap bekerja secara maksimal.

3. Mampu melepaskan hal-hal kecil dan tidak mudah bereaksi

Sikap tenang dan tidak mempermasalahkan hal-hal kecil sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian. Namun, kondisi tersebut juga dapat mencerminkan kecerdasan emosional yang tinggi.

Psikolog menyebut bahwa kemampuan untuk memilih mana hal yang perlu dipikirkan dan mana yang harus dilepaskan merupakan bagian dari pengelolaan emosi yang baik.

Sebagai contoh, ketika seseorang mendapat kritik atau mengalami percakapan kurang menyenangkan dengan atasannya, ada orang yang terus memikirkan kejadian tersebut selama berhari-hari. Sementara itu, orang lain mungkin mengambil pelajaran dari kejadian tersebut lalu melanjutkan aktivitasnya.

Sikap orang kedua bukan berarti tidak peduli, melainkan menunjukkan kemampuan menjaga energi mental dan tidak membiarkan masalah kecil menguasai pikirannya.

Dengan demikian, beberapa kebiasaan yang terlihat seperti kemalasan sebenarnya dapat menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengatur energi, mengambil keputusan, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas dan kesehatan mental. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
santai perilaku psikologi malas