RADARTUBAN — Silat lidah terkait prahara rumah tangga Sarwendah dan Ruben Onsu kian meruncing. Setelah rekaman pertengkarannya viral diungkap pihak kuasa hukum Ruben, Sarwendah akhirnya angkat suara.
Selain memberikan klarifikasi mengenai penyebab percekcokan, ia secara terbuka membongkar dugaan perselingkuhan yang dilakukan Ruben sejak 2017.
Lewat unggahan di media sosial pribadinya, Sarwendah menceritakan bahwa dirinya pertama kali mendapati dugaan kecurangan Ruben pada 2017.
Kala itu, ia memilih untuk memaafkan dan mempertahankan pernikahan yang dibangun sejak 2013 karena Ruben berjanji akan membenahi diri.
"Pada 2017, saya mendapati adanya perselingkuhan. Waktu itu beliau mengakui perbuatannya, memohon maaf, dan berjanji akan berubah," aku Sarwendah.
Keputusan untuk bertahan diambil karena ia melihat ikhtiar dan kerja keras Ruben dalam menafkahi keluarga. Namun, kesempatan kedua itu lenyap setelah ia kembali menemukan dugaan perselingkuhan berulang di tengah kondisi finansial keluarga yang sedang terpuruk.
"Kepercayaan itu kembali hancur akibat perselingkuhan berikutnya. Di saat keuangan keluarga sedang prihatin, saya justru mendapati ada alokasi dana berharga fantastis untuk selingkuhannya," tambah Sarwendah.
Ia juga menyoroti penghentian uang nafkah anak-anak selama kurang lebih tiga bulan serta terbengkalainya pembangunan rumah baru mereka.
Pemicu Cekcok Heboh di Media Sosial
Terkait video percekcokan yang beredar, Sarwendah meluruskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh perbedaan opsi mengenai hunian keluarga pasca-habisnya masa sewa rumah di kawasan Pondok Indah.
Sarwendah sempat menyarankan agar keluarga berpindah sementara ke rumah lama mereka.
Namun, usul itu ditolak Ruben yang lebih memilih memboyong keluarga menginap di hotel dengan estimasi biaya mencapai Rp 120 juta saban bulan. Merasa sarannya diabaikan dan akses komunikasi untuk negosiasi ditutup, emosi Sarwendah meluap.
Kendati mengakui bahwa reaksinya yang emosional dalam video tersebut tidak patut dibenarkan, Sarwendah menyebut luapan emosi itu merupakan akumulasi dari rasa kekecewaan yang ia pendam selama 11 tahun pernikahan.
“Sikap emosional saya di video itu memang tidak bisa dibenarkan, meski saat itu saya sangat terpukul."Di satu sisi saya masih menyimpan rasa sayang pada keluarga, tetapi di sisi lain saya terpukul melihat ikhtiar yang saya perjuangkan hancur begitu saja tanpa bisa saya cegah," tutupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni