RADARTUBAN – Memasuki usia 20-an kerap menjadi fase paling krusial sekaligus membingungkan bagi banyak anak muda.
Menanggapi fenomena quarter-life crisis tersebut, praktisi kesehatan sekaligus pengusaha, Dr. Tirta Mandira Hudhi, membagikan deretan nasihat penting dalam tayangan di kanal YouTube MALAKA.
Berdasarkan pengalamannya di usia 35 tahun, dokter Tirta menekankan pentingnya membangun fondasi hidup sejak dini agar mampu mencapai kestabilan di masa depan.
"Di usia 35 tahun ini hidup saya sangat membosankan... tapi kalian harus tahu bahwa kehidupan membosankan inilah yang diinginkan sebagian banyak orang, stability namanya," tutur dokter Tirta.
Baca Juga: Dokter Tirta Kupas Mitos dan Fakta Kesehatan Ramadan di Suara Tirta
Selanjutnya, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu mengungkapkan bahwa rutinitas teratur dan jadwal terukur yang berkesan "membosankan" di usia kepala tiga justru merupakan gambaran stabilitas finansial dan mental yang diidamkan.
Menurutnya, anak muda usia 20 hingga 25 tahun memiliki energi berlebih yang sangat potensial jika dimaksimalkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, bukan sekadar dari ranah akademis.
Selain menuntut anak muda untuk memperluas wawasan, ia juga mengingatkan agar usia muda dimanfaatkan untuk berani mengambil risiko atau melakukan pivot (alih arah karir maupun pendidikan).
Menurutnya, risiko kegagalan di usia 20-an jauh lebih kecil dan mudah diperbaiki dibandingkan saat seseorang sudah memasuki usia kepala tiga. Tak lupa, ia mengimbau agar kebiasaan berolahraga dibentuk seawal mungkin guna mencegah penyakit metabolik di usia produktif kelak.
Terkait hubungan asmara dan kesiapan menikah, edukator kesehatan ini turut meluruskan anggapan umum mengenai istilah "pria dari nol".
Dia menegaskan bahwa yang perlu dihindari bukanlah pria berpenghasilan biasa, melainkan pria yang tidak memiliki perencanaan hidup dan kesiapan matang.
"Cowok yang proper adalah cowok yang bisa me-manage keuangannya dengan baik," tegasnya.
Dia menyarankan pasangan muda untuk mengutamakan keterbukaan manajemen keuangan serta kesamaan visi sebagai tim kerja dalam rumah tangga.
Di dunia profesional, dokter Tirta membagikan pandangan kritis bahwa pertemanan di tempat kerja pada dasarnya bersifat transaksional dan terikat pada kinerja.
Oleh karena itu, dia mengimbau anak muda untuk menjaga profesionalitas, tidak mudah tersinggung, serta menahan diri ketika mengambil keputusan penting , seperti mengundurkan diri (resign) saat emosi marah, sedih, atau terlalu senang mendominasi.
Baca Juga: Dokter Tirta Ingatkan Bahaya Langsung Tidur Setelah Sahur, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Sebagai penutup, dokter Tirta berpesan agar senantiasa menjaga etika pergaulan dan menghindari perilaku bullying . Roda kehidupan yang terus berputar bisa mengubah nasib seseorang di masa depan, sehingga rasa saling menghormati menjadi kunci utama keharmonisan sosial.
“Ini tips terakhir unuk anak muda. Kesalahan diwaktu muda itu masih bisa diwajarkan. Karena kesalahan di waktu muda itu adalah pembelajaran di masa tua," pesan dia. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban