RADARTUBAN - Pernahkah Anda bingung melihat anak yang asalnya manis dan penurut, tiba-tiba berubah suka marah, memukul, atau membangkang?
Banyak orang tua yang kaget dan bertanya-tanya, kenapa anak yang terlahir suci bisa berubah seolah menjadi sosok yang nakal atau "jahat".
Keresahan semacam ini adalah hal yang wajar. Terutama saat anak mulai mengamuk di tempat umum, perasaan orang tua pasti campur aduk antara malu, bingung, dan sangat lelah.
Untuk menjawab rasa bingung tersebut, sebuah obrolan menarik baru saja dibahas tuntas dalam podcast yang sedang ramai diperbincangkan.
Baca Juga: Google Bikin Android 17 Lebih Tenang, Audio Aplikasi Nakal Kini Bakal Dibatasi
Dalam episode terbarunya, Podcast Boss Mama yang dipandu Sabrina Anggraini mengundang Teh Karin (Karina Hakman), pakar parenting. Mereka membahas tuntas masalah ini dari sudut pandang psikologi, kebiasaan keluarga, hingga sisi spiritual tentang fitrah anak.
Konsep fitrah berarti pada dasarnya anak dilahirkan dengan sifat bawaan yang baik, hatinya bersih, dan lurus. Jadi, kalau anak mulai menunjukkan sikap yang negatif, itu bukan karakter asli bawaan lahirnya.
Perilaku buruk tersebut biasanya muncul sebagai hasil interaksi anak dengan lingkungannya, khususnya rutinitas harian dan cara orang tua mendidik mereka di rumah.
Dikutip dari tayangan di kanal YouTube Boss Mama, Teh Karin memaparkan penjelasannya dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami. Menurutnya, orang tua harus mau bercermin terlebih dahulu saat menghadapi anak yang sedang rewel atau bermasalah.
"Anak itu tidak mungkin berubah nakal tanpa alasan. Seringnya, saat mereka agresif, nangis kejer, atau menolak permintaan kita, itu sebenarnya adalah cara mereka berkomunikasi. Sayangnya, komunikasinya tersumbat. Mereka marah karena cuma itu satu-satunya cara yang mereka tahu untuk menyalurkan rasa frustrasi, kecewa, atau karena merasa tidak didengarkan," kata Teh Karin.
Sabrina Anggraini pun setuju. Sebagai ibu masa kini, dia mengakui sering merasakan burnout karena rutinitas yang padat. Kelelahan ini ternyata punya pengaruh besar. Suasana rumah bisa menjadi tegang, dan tanpa sadar ketegangan emosi itu menular langsung ke anak-anak.
Dilansir dari tayangan di kanal YouTube Boss Mama, perbincangan mereka menyoroti betapa pentingnya mengenali pemicu emosi anak setiap hari. Apa yang dianggap sebagai kenakalan sering kali hanyalah respons wajar anak karena perasaannya tidak divalidasi.
Saat anak marah, lalu kita meresponsnya dengan bentakan atau amarah yang meledak-ledak, hal ini justru akan merusak kelembutan alami anak. Tindakan buruk kita itu akan tertanam di pikirannya. Mereka akan berpikir bahwa kekerasan verbal adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah.
Menguasai teknik meredam amarah bagi orang tua adalah kuncinya. Siniar ini membagikan dua langkah praktis. Langkah pertama adalah mengambil jeda (pause). Saat anak mulai memancing emosi, jangan langsung bereaksi. Tarik napas dalam-dalam. Sadari bahwa anak sebenarnya sedang kesulitan mengatur emosinya.
Baca Juga: WFH Bukan Liburan, Mensos Saifullah Yusuf Tegas Ancam ASN Nakal dengan Sanksi hingga Pemecatan
Langkah kedua, berikan validasi pada perasaan anak. Gunakan kalimat empati seperti, "Ibu tahu adik lagi marah karena mainan rusak. Boleh merasa marah, tapi tidak boleh memukul ya." Cara ini terbukti jauh lebih ampuh menenangkan hati anak daripada sekadar membentak atau menghukum.
"Kita tidak bisa menyuruh anak pintar mengatur emosi, kalau kita sendiri masih sering marah meledak-ledak. Anak itu peniru yang hebat. Mereka merekam cara orang tua menyelesaikan masalah. Nantinya, cara itulah yang akan mereka pakai saat bergaul dengan teman-temannya," lanjutnya, seperti yang dikutip dari tayangan di kanal YouTube Boss Mama.
Fenomena perubahan sikap anak yang tiba-tiba menjadi agresif dan tidak terkendali sejatinya adalah sebuah alarm peringatan yang sangat penting bagi para orang tua di rumah. Ini adalah saat yang paling tepat bagi kita semua untuk mengevaluasi ulang gaya komunikasi, berusaha keras menekan tingkat stres, dan terus memperbaiki pola pengasuhan sehari-hari.
Menjaga fitrah kebaikan dalam diri anak memang sangat membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra, kelapangan hati yang luas, serta kemauan keras dari dalam diri untuk terus belajar tanpa henti.
Dengan rutin mengenali berbagai hal yang memicu emosi anak serta belajar menahan amarah di saat-saat kritis, orang tua pasti akan jauh lebih siap menghadapi konflik dan drama keluarga sehari-hari dengan pikiran yang lebih jernih.
Pada hasil akhirnya, seorang anak yang selalu merasa disayangi dengan tulus, dimengerti isi kepalanya, dan sangat dihargai perasaannya pasti akan tumbuh besar menjadi pribadi yang tangguh, kuat secara mental, penuh dengan rasa empati, dan selalu sejalan dengan fitrah kebaikannya sejak lahir. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama