RADARTUBAN – Pola pengasuhan anak (parenting) terus berkembang seiring berjalannya waktu dan perbedaan kebudayaan di tiap negara.
Perbandingan antara cara mengasuh anak di Asia Timur dan Asia Tenggara kerap menjadi topik perbincangan hangat bagi para orang tua muda yang sedang mencari metode terbaik bagi buah hati mereka.
Dikutip dari kanal YouTube Nikita Willy dalam tayangan Mom's Corner, pembahasan mendalam mengenai parenting mengemuka saat menghadirkan content creator asal Korea Selatan, Na Daehoon.
Dalam kesempatan tersebut, Daehoon membagikan pengalaman serta pandangannya mengenai perbedaan mendasar antara parenting Korea dan Indonesia, serta evolusi cara mengasuh anak dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Inilah Mitos Diet yang Sering Disalahpahami, Penjelasan Dokter Diana dalam Podcast Nikita Willy
Menurut Daehoon, terdapat perbedaan antargenerasi yang cukup terasa dalam pola pengasuhan. Zaman dahulu, cara mengasuh anak di Korea tergolong lebih keras dan bebas (wild).
Tindakan memberi hukuman fisik seperti digebuk dianggap sebagai hal yang wajar pada masa itu, mirip dengan dinamika VOC parenting.
"Namun, kondisi tersebut telah bergeser secara signifikan," jelas dia dalam podcast.
Saat ini, parenting di Korea Selatan justru dinilai jauh lebih sensitif dan lembut (naif) jika dibandingkan dengan pola pengasuhan di Indonesia.
Salah satu aturan ketat yang diterapkan dalam pengasuhan anak di Korea adalah kontrol terhadap asupan nutrisi. Daehoon mengungkapkan bahwa anak berusia di bawah dua tahun sama sekali tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula.
Selain itu, urusan menyewa jasa pengasuh (nanny) di Korea tergolong sangat mahal dan umumnya hanya dimanfaatkan oleh keluarga berpenghasilan tinggi atau kelas atas. Oleh karena itu, prinsip utama parenting Korea menekankan bahwa orang tua harus selalu hadir secara langsung untuk mendampingi anak-anak mereka.
Tuntutan ekonomi juga membentuk ritme hidup keluarga di Korea Selatan. Mayoritas pasangan suami istri bekerja, sehingga pemerintah dan pihak swasta menyediakan sistem penitipan anak (daycare).
Menariknya, setelah selesai dari daycare, anak-anak biasanya langsung dilanjutkan ke kegiatan olahraga seperti Taekwondo.
Fasilitas daycare di sana bahkan memiliki konsep berbasis olahraga. Sekolah atau pihak Taekwondo yang akan menjemput anak-anak tersebut dari daycare, lalu setelah selesai latihan barulah anak diantar pulang ke rumah. Pola ini membuat anak-anak di Korea terbiasa dengan jadwal kegiatan yang padat setiap harinya.
Daehoon menilai bahwa lingkungan yang terstruktur ini membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Anak-anak di Korea cenderung lebih cepat belajar dan dibentuk menjadi pribadi yang mandiri sejak dini.
Pola menuntut anak untuk mandiri ini juga menjadi ciri khas umum di negara-negara Asia Timur lainnya seperti Jepang dan Tiongkok. Daehoon merasakan sendiri manfaat pola asuh tersebut, di mana salah satu anaknya yang baru berusia lima tahun sudah menunjukkan kemandirian yang matang.
Meski begitu, Daehoon memberikan catatan kritis terkait pembentukan karakter. Menurutnya, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat padat jadwalnya kerap kurang diajarkan manner atau sopan santun dasar seperti cara makan yang sopan.
Dia menekankan bahwa dalam urusan mengajarkan manner makan, orang tua harus lebih tegas (strict). Jika ada masalah dalam hal kesopanan, hal tersebut harus segera diperbaiki dan dijadikan prioritas utama.
Daehoon sendiri menerapkan pola pengasuhan yang tidak memicu amarah pada anak, tetapi tetap menjaga sikap tegas tanpa mengorbankan nilai-nilai kesopanan. Bagi Daehoon, kehadiran orang tua serta pembentukan karakter yang santun adalah kunci utama dalam membesarkan generasi masa depan.
Pembelajaran parenting ala Korea yang dibagikan oleh Na Daehoon memberikan gambaran bahwa kemandirian dan rutinitas anak dapat dibentuk sejak dini melalui sistem yang teratur.
Dengan demikian, kehadiran penuh orang tua serta penanaman kesopanan dan manner tetap menjadi fondasi paling utama yang tidak boleh tergeser oleh kesibukan harian.(*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban