Fariz Gamal Beberkan Alasan Gen Z Makin Mantap Pilih Childfree: Anak Bukan Asuransi Masa Tua!

Nadia Aulia • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:33 WIB
Ilustrasi perbedaan cara pandang Baby Boomers dan Generasi Z terhadap pilihan hidup childfree, (Radar Tuban/Ai)
Ilustrasi perbedaan cara pandang Baby Boomers dan Generasi Z terhadap pilihan hidup childfree, (Radar Tuban/Ai)

RADARTUBAN – Keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Perbedaan pandangan mengenai pilihan tersebut kerap terlihat antara generasi Baby Boomers dan Generasi Z.

Konten kreator Fariz Gamal menilai perbedaan itu tidak muncul karena salah satu generasi lebih benar daripada yang lain. Menurutnya, cara pandang setiap generasi terbentuk dari kondisi ekonomi, perkembangan zaman, serta pengalaman hidup yang berbeda.

Fariz menjelaskan, generasi Baby Boomers yang lahir pada 1946–1964 tumbuh ketika fasilitas kesehatan masih terbatas dan angka harapan hidup belum setinggi sekarang.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bad Mood Biasa, Psikolog Ungkap Bahaya Baby Blues yang Harus Diketahui Ibu Baru

Pada masa itu, memiliki banyak anak dianggap sebagai hal yang wajar. Selain untuk meneruskan keturunan, anak juga dipandang sebagai pihak yang kelak dapat merawat orang tua ketika memasuki usia lanjut.

Di sisi lain, akses terhadap investasi, dana pensiun, maupun asuransi pada masa itu juga belum berkembang seperti sekarang. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga memandang anak sebagai penopang kehidupan di masa tua.

"Di zamannya Boomers belum ada yang namanya investasi atau asuransi pensiun. Maka tak heran kalau mereka berpikir anak adalah 'asuransi' atau investasi masa tua," ujar Fariz.

Sementara itu, Generasi Z tumbuh di era digital dengan akses informasi yang jauh lebih luas. Pengetahuan mengenai literasi keuangan, investasi, dan perencanaan masa depan kini lebih mudah diperoleh. Karena itu, banyak anak muda tidak lagi menganggap anak sebagai jaminan finansial ketika tua.

Di saat yang sama, mereka juga dihadapkan pada biaya hidup yang terus meningkat. Harga rumah yang semakin mahal, biaya pendidikan, hingga kebutuhan pengasuhan anak menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan untuk membangun keluarga.

Menurut Fariz, bukan hanya faktor ekonomi yang memengaruhi keputusan tersebut. Generasi Z juga lebih terbuka membahas kesehatan mental, trauma pengasuhan (parenting trauma), serta dampak kemiskinan yang dialami keluarga.

Sebagian orang memilih childfree karena merasa belum siap menjadi orang tua atau tidak ingin mengulang pola pengasuhan yang pernah mereka alami.

Meski demikian, Fariz mengingatkan bahwa penurunan angka kelahiran juga memiliki dampak terhadap perekonomian negara. Dalam jangka panjang, kondisi itu berpotensi memicu penuaan populasi (aging population) yang dapat mengurangi jumlah penduduk usia produktif dan memberi tekanan pada sistem jaminan sosial.

Namun, ia menegaskan bahwa bonus demografi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya jumlah penduduk. Yang lebih penting adalah kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.

"Bonus demografi itu harus orang yang berkualitas dan punya skill. Kalau tidak terdidik, itu bukan bonus, tapi beban demografi," tegasnya.

Baca Juga: Fenomena Childfree di Kalangan Gen Z Meningkat, Dokter Kandungan Ungkap 4 Faktor Utamanya

Fariz menambahkan bahwa keputusan memiliki anak maupun memilih childfree merupakan hak setiap individu. Namun, ketika seseorang memutuskan menjadi orang tua, tanggung jawab untuk membesarkan, mendidik, dan memenuhi hak anak harus menjadi prioritas.

"Anak itu tidak pernah minta dilahirkan. Jadi kalau memilih punya anak, tolong bertanggung jawab dan uruslah dengan baik," tutup Fariz. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
fariz gamal baby boomers childfree