Antara Warisan Budaya dan Ancaman Konservasi: Sisi Lain Dunia Kicau Mania

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:38 WIB
Ilustrasi burung kicau. (Pinterest) 
Ilustrasi burung kicau. (Pinterest) 

RADARTUBAN- Tradisi memelihara burung berkicau atau yang akrab disebut dengan budaya Kicau Mania sudah lama merajai kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Bagian sebagian orang, mendengarkan lantunan suara burung di teras rumah bukan sekadar hobi biasa, melainkan cara ampuh untuk melepaskan penat setelah seharian bekerja. Hobi ini juga kerap dipandang sebagai sarana melestarikan budaya lokal yang diturunkan secara turun-temurun.

Namun, di balik keindahan nada dan hiruk-piruk perlombaan burung berkicau, terdapat realita cukup mendalam yang jarang disadari oleh publik.

Baca Juga: Merdu di Telinga, Sunyi di Alam dalam Lagu Kicau Mania: Kajian Ekokritik Sastra

Fenomena ini diulas secara lugas dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Dunia Alam melalui video terbarunya. Video tersebut mengangkat perspektif kritis mengenai dampak hobi burung berkicau terhadap keseimbangan ekosistem hutan.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa tingginya minat masyarakat terhadap burung berkicau secara tidak langsung mendorong peningkatan aktivitas perburuan liar di alam bebas.

Banyak jenis burung unik yang dulunya sangat mudah ditemui di pepohonan kini mulai sulit ditemukan akibat ditangkap secara masif untuk memenuhi permintaan pasar.

Dikutip dari kanal YouTube dunia alam, maraknya penangkapan burung liar ini jika terus dibiarkan tanpa kontrol dapat merusak rantai makanan di ekosistem asal.

Burung di hutan memiliki peran sangat vital, mulai dari membantu penyerbukan bunga, menyebarkan benih tanaman, hingga mengendalikan populasi hama serangga secara alami.

"Jika perburuan masih terus terjadi dan populasi satwa terus menurun fungsi ekologis hutan tetap dapat terganggu," ujar narator dalam video tersebut.

Dilema ini memang menjadi persoalan yang cukup rumit. Di satu sisi, dunia Kicau Mania menciptakan roda ekonomi yang sangat hidup, mulai dari pengrajin sangkar, pembuat pakan, hingga penyelenggara lomba gantangan.

Namun di sisi lain, kelestarian keanekaragaman hayati di hutan Indonesia bertaruh cukup besar jika perburuan liar tidak segera dibatasi secara tegas.

Sebagai jalan tengah, penangkaran resmi dan penegakan hukum terhadap jual-beli burung yang dilindungi menjadi solusi mutlak yang harus diperkuat.

Para penghobi pun diharapkan bisa lebih bijak dengan mengutamakan burung hasil penangkaran (breed) ketimbang membeli burung hasil tangkapan liar dari alam. Langkah ini penting agar warisan budaya Kicau Mania tetap bisa berjalan selaras tanpa harus mengorbankan kelestarian alam Indonesia. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Dunia Alam
kicau mania burung ekosistem