Benarkah Kecerdasan Anak Diturunkan dari Ibu? Ini Penjelasan Lengkapnya dari Pakar

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:40 WIB
Cania Citta dan Dea Anugrah bersama Riza Arif Putranto saat berdiskusi tentang Penjelasan kecerdasan anak diturunkan oleh orangtua. (YouTube Malaka Project id)
Cania Citta dan Dea Anugrah bersama Riza Arif Putranto saat berdiskusi tentang Penjelasan kecerdasan anak diturunkan oleh orangtua. (YouTube Malaka Project id)

RADARTUBAN– Mitos mengenai kecerdasan anak yang sepenuhnya diturunkan dari sosok ibu sudah sangat lama beredar di tengah masyarakat.

Banyak orang percaya bahwa jika seorang ibu memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, maka anak-anaknya secara otomatis akan mewarisi kemampuan otak yang sama. Lantas, apakah pandangan tersebut benar secara ilmiah?

Dilansir dari tayangan podcast di kanal YouTube Malaka Project bertajuk “Benarkah Kecerdasan Anak Diturunkan dari Ibu”, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya salah, namun juga kurang tepat jika ditelan bulat-bulat.

Baca Juga: Perdebatan Sengit Karakter Film Obsession: Tragedi Permen 'One Wish Willow', Siapa yang Patut Disalahkan?

Secara biologis, gen pembawa kecerdasan memang banyak ditemukan pada kromosom X. Karena wanita memiliki dua kromosom X (XX) dan pria hanya memiliki satu (XY), peran ibu dalam menyumbangkan gen kognitif memang tergolong cukup besar.

Dikutip dari penjelasan dalam video tersebut, kondisi genetik ini membuat peluang penurunan sifat kognitif dari ibu menjadi lebih terlihat dominan. Baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama mendapatkan setidaknya satu kromosom X dari sosok ibu.

""DNA kita balik lagi DNA kita diturunkan dari siapa? Setengah dari ayah. Bapak dan ibu setengah dari ibu. Dari jawaban ini saja statement bahwasanya itu diturunkan dari udah false. Yes. Sudah gugur"," ungkap Riza Arif Putranto sebagai pembicara dalam video podcast Malaka Project tersebut.

Selain faktor genetika dari ibu, peran ayah juga tetap memiliki andil penting dalam pembentukan fungsi otak anak. Sifat genetik dari ayah ikut menyumbang pada perkembangan struktur otak pendukung, seperti bagian yang mengatur emosi, insting, serta respon terhadap stres yang sangat memengaruhi ketahanan belajar anak.

Tak kalah penting, faktor lingkungan dan stimulasi tumbuh kembang menyumbang porsi yang sangat besar.

DNA hanyalah modal atau potensi awal. Pembentukan kecerdasan yang sesungguhnya sangat bergantung pada kecukupan gizi, pola asuh, rasa aman, serta rangsangan pendidikan yang diterima anak sehari-hari.

Pada akhirnya, ibu memang memberikan kontribusi genetik yang dominan terhadap potensi fungsi otak anak melalui kromosom X.

Namun, kecerdasan anak tetap merupakan hasil kerja sama yang kompleks antara warisan genetik kedua orang tua, kecukupan nutrisi, serta pengasuhan lingkungan yang positif. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Malaka Project
Cania Citta Malaka Project dna