RADARTUBAN — Dunia entertainment kembali berduka dengan beredarnya kabar duka dari seorang penggemar grup K-Pop ENHYPEN.
Media sosial dihebohkan oleh kabar meninggalnya seorang penggemar asal Jepang bernama Mina yang diduga mengakhiri hidupnya akibat menjadi korban cyberbullying.
Seperti dilansir dari kanal YouTube Yusrilkim, sejumlah informasi yang beredar saat ini masih berasal dari unggahan media sosial yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Dugaan ini mengemuka karena belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang maupun pihak keluarga.
Mina dikenal sebagai penggemar berat ENHYPEN, khususnya sang anggota, NI-KI. Setelah lulus dari Rikkyo University di Jepang, ia menetap di Korea Selatan dan aktif menghadiri berbagai konser serta acara penggemar.
Aktivitasnya di media sosial membuat sosoknya cukup populer dengan lebih dari 70 ribu pengikut di Instagram dan 26 ribu pengikut di platform X.
Baca Juga: Film Animasi KPop Demon Hunters Masuk Koleksi Kriteria Eksklusif
Perhatian publik terhadap Mina mulai meningkat usai gelaran konser ENHYPEN. Saat konser berlangsung, ia melempar buket bunga matahari yang kemudian diambil oleh Sunoo untuk diserahkan kepada NI-KI.
Namun, saat itu NI-KI dikabarkan sedang memberikan fan service kepada penggemar lain, sehingga buket tersebut akhirnya dikembalikan kepada Mina.
Aksi Mina yang sempat mengambil foto selfie di tengah konser pun memicu kontroversi di kalangan netizen.
Berdasarkan informasi yang beredar dari netizen Jepang dan artikel lokal setempat, NI-KI sempat menyampaikan imbauan saat siaran langsung mengenai perilaku sebagian penggemar yang dianggap melewati batas saat menghadiri konser.
Imbauan tersebut bersifat umum tanpa merujuk kepada individu tertentu. Namun, sebagian pengguna internet justru mengaitkan pernyataan tersebut dengan Mina.
Pembahasan yang kian menyebar luas memicu aksi beberapa pengguna internet menyebarkan foto, unggahan lama, hingga informasi pribadi Mina. Meski terdapat lebih dari satu penggemar yang diduga melakukan aksi serupa saat konser, sorotan dan kritikan netizen justru tertuju masif kepada Mina.
Di tengah gempuran tersebut, Mina sempat mengunggah video permintaan maaf dan mengungkapkan penyesalannya atas situasi yang terjadi.
Sayangnya, permintaan maaf tersebut tidak menghentikan arus komentar negatif dan serangan di media sosial. Gelombang kritikan terus berlanjut hingga memasuki tanggal 5 Agustus.
Kabar duka kemudian merebak melalui unggahan Instagram Story yang diduga diunggah oleh teman dekat Mina. Unggahan tersebut berisi ucapan belasungkawa disertai tudingan bahwa perundungan siber di media sosial telah berdampak fatal pada kondisi mental Mina.
Tak lama berselang, beredar kabar di platform X dari pengguna yang mengaku menyaksikan siaran langsung kejadian tersebut, disertai klaim kedatangan pihak kepolisian ke lokasi.
Kini, media sosial dipenuhi ungkapan duka, rasa terkejut, hingga tudingan terhadap pihak-pihak yang dianggap memicu perundungan tersebut. Sejumlah kreator konten pun turut memberikan pandangan mereka.
Kreator bernama Henry mengaku prihatin atas fenomena cancel culture dan respons ekstrem netizen yang dinilainya sangat mengkhawatirkan.
Pandangan serupa disampaikan oleh Esme, yang menegaskan bahwa menyukai idol tidak seharusnya menjadi alasan untuk merundung orang lain.
Sementara itu, kreator Brian menyoroti bagaimana media Korea Selatan masih cenderung bungkam terkait isu ini. Ia mengingatkan publik untuk tetap bijak dalam menyikapi informasi serta mengkritik fenomena hubungan parasosial yang berlebihan di industri K-Pop.
"Tampaknya media Korea Selatan, setidaknya untuk saat ini, masih bungkam. Belum ada artikel resmi mengenai hal ini. Hubungan parasosial, khususnya di dalam industri K-Pop, bisa menjadi sangat toksik dan merusak. Kita harus memahami bahwa industri ini memang hidup dari hal tersebut. Jadi, tetaplah berhati-hati. Rest in peace, ini sungguh kejadian yang sangat tragis," ungkap Brian.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa cyberbullying dan budaya cancel culture bisa berdampak fatal. Menyukai idola seharusnya tak mengikis empati, dan publik perlu lebih bijak sebelum melontarkan hujatan di dunia maya.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni