RADARTUBAN - Sejak pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Taliban pada tahun 2021, Afganistan kerap dipandang sebagai salah satu wilayah paling berisiko di dunia, khususnya bagi kaum perempuan.
Berbagai laporan internasional menyoroti pemberlakuan aturan moralitas yang sangat ketat, pembatasan akses pendidikan, hingga pelarangan bagi perempuan untuk berbicara atau bernyanyi di ruang publik.
Situasi ini membuat masyarakat global memandang Afganistan dengan penuh kekhawatiran dan rasa cemas.
Namun, di balik narasi kelam yang mendominasi pemberitaan media mainstream, muncul sebuah pertanyaan mendasar, bagaimana sebenarnya realitas kehidupan sehari-hari di sana jika disaksikan secara langsung oleh seorang wisatawan asing?
Baca Juga: Kenapa Pria Tuareg Justru Menutup Wajah? Tradisi Unik Suku Sahara yang Bikin Penasaran
Misi 100 Jam Josie Menembus Perbatasan Afganistan
Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab oleh Josie, seorang kreator konten dan Youtuber asal Australia. Melalui video yang diunggah di kanal YouTube Josie Lifts Things, dia mendokumentasikan petualangannya menjelajahi Afganistan selama 100 jam.
Tanpa pengawalan mewah, Josie memilih memasuki wilayah negara tersebut melalui jalur darat dari perbatasan Tajikistan, lalu menelusuri kota-kota penting seperti Mazar-i-Sharif hingga ibu kota Kabul.
Sejak langkah pertama menyeberangi garis perbatasan, Josie tidak menampik adanya perasaan cemas dan tegang yang membayangi pikirannya.
Pemandangan tentara dan aparat keamanan Taliban berpakaian militer lengkap dengan senjata laras panjang menjadi hal lumrah yang ditemuinya di sepanjang rute perjalanan.
Di setiap pos pemeriksaan, dokumen perjalanannya diperiksa secara ketat. Selain itu, sebagai wisatawan perempuan, Josie wajib mematuhi regulasi lokal yang berlaku, termasuk larangan keras merekam atau mengambil foto wajah perempuan setempat di area publik demi menjaga privasi dan norma agama.
Temukan Keramahan Warga Lokal
Kendati harus bergerak di bawah pengawasan hukum dan aturan yang serba ketat, sudut pandang Josie terhadap Afganistan berangsur-angsur mengalami perubahan signifikan.
Suasana mencekam yang sempat dia bayangkan perlahan luntur saat mulai berinteraksi langsung dengan penduduk lokal.
Di balik citra kaku dan keras yang melekat pada negara tersebut, Josie justru menemukan keterbukaan, keramahan, dan kedermawanan luar biasa dari warga setempat.
Salah satu momen paling berkesan dalam petualangannya terjadi sewaktu dia singgah di Mazar-i-Sharif. Di kota terbesar keempat di Afganistan tersebut, Josie mendapatkan kesempatan langka yang sangat berharga.
Dia diundang untuk menghadiri acara makan malam komunitas di kediaman seorang warga lokal. Walaupun Afganistan menerapkan aturan segregasi gender yang sangat ketat, Josie tetap diterima dengan penuh rasa hormat.
Dia duduk bersama puluhan pria warga setempat untuk menikmati hidangan tradisional khas Afganistan dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban.
Dalam kesempatan tersebut, dialog interkultural yang menyentuh pun terjadi. Salah seorang warga lokal menyampaikan pesan mendalam yang membekas bagi Josie.
"Pesan saya kepada dunia adalah untuk tetap saling bersahabat dan menyebarkan kebaikan. Kebaikan adalah hal yang tidak boleh hilang antarmanusia," tutur salah seorang warga lokal yang berbincang dengan Josie.
Petualangan Josie kemudian berlanjut menuju ibu kota Kabul. Untuk mencapai kota ini, dia harus menempuh perjalanan darat yang cukup panjang dan menantang selama kurang lebih 12 jam.
Setibanya di Kabul, Josie menyempatkan diri mendatangi beberapa situs bersejarah dan pusat kegiatan masyarakat yang ikonik, seperti Taman Babur yang bersejarah serta Pasar Burung (Bird Bazaar) yang legendaris.
Di tengah hiruk-pikuk pasar dan ruang publik Kabul, Josie sempat bertemu dengan beberapa warga yang bersikap ragu serta skeptis terhadap kehadiran media atau liputan asing.
Meski demikian, mayoritas masyarakat yang dia temui justru menyambutnya dengan tangan terbuka. Senyuman hangat, tawaran segelas teh hangat, hingga makanan tradisional kerap diberikan oleh orang-orang yang bahkan tidak dia kenal sebelumnya.
Menemukan Kebaikan di Tengah Konflik
Menutup perjalanan singkat namun penuh makna tersebut, Josie mengungkapkan bahwa pengalaman selama 100 jam di Afganistan telah memberikan pelajaran dan sudut pandang yang sama sekali baru baginya.
Dia menyimpulkan bahwa meskipun situasi politik, aturan hukum, dan pembatasan sosial di Afganistan sangat kompleks dan memprihatinkan, masyarakat awam di sana menyimpan kehangatan hati serta kepedulian yang sangat tinggi terhadap sesama manusia.
Pengalamannya membuktikan bahwa di tengah bayang-bayang konflik dan aturan rezim yang kaku, kebaikan serta nilai-nilai kemanusiaan warga Afganistan tetap ada. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari