RADAR TUBAN - Misi Voyager milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) diakui dunia sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah eksplorasi luar angkasa modern.
Berlayar sejak akhir dekade 1970-an, dua wahana kembar Voyager tak hanya merombak pemahaman sains manusia tentang batas luar Tata Surya, tetapi juga mengukir jejak sejarah budaya Indonesia di jagat raya yang abadi.
Kini, setelah menjelajah hampir setengah abad, Voyager resmi menjadi objek buatan manusia terjauh di alam semesta.
Baca Juga: Misteri Sinyal Bakteri di Planet Tetangga! Benarkah Kita Tidak Sendirian di Tata Surya
Kalkulasi Matematika yang Menembus Batas Kemungkinan
Keberhasilan luar biasa ini berakar dari fenomena astronomi langka yang terjadi sekali setiap 175 tahun, yakni sejajarnya empat planet raksasa Tata Surya seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Momentum unik tersebut dimanfaatkan secara jenius melalui gagasan Gary Flandro, seorang mahasiswa magang di NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) pada 1964.
Flandro menghitung bahwa teknik gravity assist atau pemanfaatan gaya gravitasi planet dapat memangkas waktu tempuh perjalanan ke Neptunus secara drastis, dari yang semula memakan waktu 30 tahun menjadi hanya 12 tahun.
Guna mengeksekusi misi ambisius ini, NASA meluncurkan dua wahana identik pada tahun 1977.
Voyager 2 mengudara lebih dulu pada 20 Agustus 1977, diikuti oleh Voyager 1 pada 5 September 1977.
Meski diluncurkan belakangan, Voyager 1 diberi nomor urut pertama karena mengambil rute lintasan yang lebih cepat untuk memfokuskan pemantauan pada Bulan Titan milik Saturnus.
Sementara itu, Voyager 2 mengemban tugas berat menyelesaikan pengamatan melintasi seluruh rangkaian empat planet raksasa tersebut.
Penemuan Fenomenal di Batas Luar Tata Surya
Didesain untuk beroperasi di ruang hampa yang jauh dari paparan sinar matahari, kedua wahana ini tidak mengandalkan panel surya.
NASA membekalinya dengan Radioisotope Thermoelectric Generator (RTG) berbasis peluruhan plutonium-238 sebagai sumber daya utama.
Selain itu, instrumen canggih seperti penginderaan jauh, pengukur medan magnet, hingga penangkap gelombang radio dan plasma disematkan untuk merekam kondisi planet terluar.
Sepanjang pengembaraannya, Voyager menghasilkan deretan penemuan monumental yang merestrukturisasi ilmu sains.
Di antaranya adalah struktur detail cincin Saturnus, aktivitas vulkanik aktif di bulan Jupiter (Io), keunikan orientasi medan magnet Uranus, hingga cuaca ekstrem Neptunus dengan terpaan angin badai yang kecepatannya mencapai 1,5 kali kecepatan suara.
Misi ini juga berhasil mengabadikan foto ikonik Pale Blue Dot atau potret Bumi dari jarak 6 miliar kilometer yang memperlihatkan planet kita hanyalah sebaris titik biru kecil di tengah kehamparan alam semesta.
Jejak Kebudayaan Indonesia di Dalam Golden Record
Menariknya, keberadaan peradaban manusia turut diabadikan dalam instrumen bernama Golden Record, sebuah piringan tembaga berlapis emas yang dibawa oleh kedua wahana tersebut.
Piringan ini memuat rekaman suara, gambar, karya seni, serta ucapan salam dalam 55 bahasa yang ditujukan sebagai kapsul waktu bagi peradaban luar angkasa yang mungkin menemukannya di masa depan.
Budaya Indonesia turut terukir abadi di dalamnya melalui rekaman alunan musik gamelan, foto penari tradisional, hingga ucapan salam dari Ilas Herun, seorang penyiar Radio Republik Indonesia (RRI).
Dikutip dari ulasan di kanal YouTube Fajrul Fx, keberadaan rekaman tersebut menjadi simbol penting eksistensi manusia di skala kosmik.
"Meskipun kita tidak tahu apakah akan ada alien yang menemukan Golden Record ini atau tidak, piringan ini sudah menjadi sebuah simbol bahwa manusia pernah mencoba memperkenalkan dirinya kepada alam semesta," terang pengunggah konten dalam penjelasannya mengenai misi bersejarah tersebut.
Pengembaraan Abadi di Ruang Antarbintang
Kini, setelah melintasi perjalanan lintas bintang selama hampir 50 tahun, kedua wahana Voyager berada di ambang akhir masa operasinya. Mayoritas instrumen ilmiah telah dimatikan secara bertahap demi menghemat sisa daya listrik yang kian menipis.
NASA memprediksi komunikasi terakhir dengan kedua penjelajah ini kemungkinan akan terputus sepenuhnya pada kisaran tahun 2030-an.
Kendati sinyal dan dayanya kelak padam total, wahana Voyager akan terus melayang secara abadi, menjelajahi kegelapan ruang antariksa sebagai monumen abadi peradaban manusia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari