RADARTUBAN – Mitos mengenai pengorbanan diri secara sukarela oleh puluhan pengawal dan pelayan Kerajaan Ur demi mendampingi Ratu Puabi di alam baka akhirnya runtuh.
Teknologi medis modern terhadap sisa-sisa jasad kuno dari wilayah Mesopotamia tersebut justru mengungkap fakta kelam bahwa para pengikut kerajaan Ur dibunuh secara paksa menggunakan senjata tumpul sebelum jasadnya ditata dalam ritual pemakaman.
Temuan ini membantah teori yang diyakini selama hampir delapan dekade sejak penemuan kompleks pemakaman kerajaan Ur di selatan Irak pada 1922 oleh arkeolog Inggris, Leonard Woolley.
Baca Juga: Mengapa Hampir Semua Peradaban Melarang Inses? Ternyata Alasannya Bukan Hanya Soal Genetika
Kala itu, Woolley menemukan lubang kematian raksasa berisi 74 kerangka manusia yang tersusun rapi, mulai dari prajurit berbekal senjata hingga pemusik wanita di dekat harpanya.
"Woolley melihat semua ini dan dia tidak melihat adanya tanda-tanda kekerasan atau perkelahian. Dia menyimpulkan bahwa mereka meminum racun secara sukarela. Seluruh istana Puabi berjalan ke dalam lubang, meminum sesuatu, lalu berbaring untuk mati," ujar narator dalam unggahan video di kanal YouTube Nils.
Bukti Trauma Fisik dan Pengawetan Jasad
Teori ritual pengorbanan yang tenang itu patah pada 2007 saat tim peneliti menguji ulang tengkorak pemakaman Ur yang tersimpan di Pen Museum, Amerika Serikat.
Melalui pemindaian CT scan, ilmuwan menemukan retakan trauma fatal akibat hantaman benda tumpul pada tengkorak korban menjelang kematian mereka.
Tak hanya bukti kekerasan fisik, uji laboratorium juga mendeteksi bekas pemanasan kimiawi dan zat merkuri pada jaringan tengkorak.
Temuan tersebut mengindikasikan jasad para korban sengaja diawetkan agar tidak membusuk dan tampak tenang saat dipamerkan dalam prosesi pemakaman publik.
Warisan Peradaban Bangsa Sumeria
Di samping rekam jejak kelam pemakaman kerajaannya, bangsa Sumeria di Mesopotamia tetap memegang peranan besar sebagai pilar peradaban modern.
Mereka merupakan pencipta sistem tulisan cuneiform, jaringan irigasi raksasa, hingga perhitungan matematika berbasis angka 60.
Sistem aritmatika tersebut masih digunakan masyarakat dunia hingga hari ini untuk menentukan pembagian 60 menit dalam satu jam, 60 detik dalam satu menit, serta 360 derajat dalam satu lingkaran.
"Peradaban yang sama yang menciptakan sistem tulisan, yang memberi kita sistem 7 hari dalam seminggu, juga melakukan pembunuhan massal ritual yang dirancang menyerupai pemakaman damai," pungkas narasi tersebut.
Hasil penelitian di Ur ini memperlihatkan bahwa peradaban manusia tertua dibangun di atas dinamika kekuasaan yang sangat kompleks, di mana tingginya pencapaian budaya berjalan berdampingan dengan sisi kelam legitimasi elitnya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari