RADARTUBAN – Nama Koes Plus sudah begitu lekat dengan sejarah musik Indonesia. Lagu-lagu seperti Kolam Susu, Andaikan Kau Datang Kembali, hingga Diana masih dikenal lintas generasi.
Namun, di balik popularitas tersebut, ada sejumlah cerita unik yang mungkin belum banyak diketahui.
Bahkan, nama Koes Plus ternyata memiliki kisah yang cukup sederhana dan tak terduga.
Nama band asal Tuban tersebut muncul setelah kelompok musik yang sebelumnya bernama Koes Bersaudara mengalami perubahan personel.
Baca Juga: Kisah di Balik Lagu Diana Koes Plus, Cinta yang Ditentang Paman Petani
Murry, yang bukan bagian dari keluarga Koeswoyo, masuk menggantikan Nomo Koeswoyo.
Kehadiran personel baru itu membuat nama Koes Bersaudara dianggap tidak lagi sesuai. Dari situlah muncul nama Koes Plus.
Cerita yang berkembang menyebut, kata "Plus" justru terinspirasi dari iklan obat sakit kepala yang dilihat Tonny Koeswoyo. Kata tersebut kemudian dipilih untuk menggambarkan Koes Bersaudara yang mendapat tambahan personel dari luar keluarga.
Di balik lahirnya Koes Plus, ada pula kisah yang jauh lebih serius. Sebelum dikenal sebagai salah satu grup musik terbesar di Indonesia, Koes Bersaudara pernah merasakan dinginnya penjara.
Pada 1965, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo ditangkap dan ditahan di Penjara Glodok. Penahanan tersebut berkaitan dengan aktivitas mereka membawakan musik yang dianggap merepresentasikan pengaruh Barat, termasuk lagu-lagu The Beatles.
Pengalaman berada di balik jeruji kemudian ikut memengaruhi karya mereka. Salah satunya melalui lagu "Di Dalam Bui" yang menggambarkan pengalaman ketika menjalani masa tahanan.
Kisah unik lainnya datang dari Murry. Drummer Koes Plus tersebut dikenal memiliki karakter permainan drum yang khas. Pukulannya bahkan disebut terdengar tidak biasa dan seperti tidak mengikuti pola permainan drum pada umumnya.
Namun, justru karakter itulah yang menjadi warna tersendiri bagi Koes Plus. Gaya permainan Murry membuat musik kelompok tersebut memiliki identitas yang berbeda dibandingkan grup musik lain pada masanya.
Sementara itu, perubahan dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus juga tidak berlangsung tanpa persoalan. Keputusan Nomo untuk keluar sempat menimbulkan ketegangan di antara anggota keluarga Koeswoyo.
Baca Juga: Kembali ke Jakarta, Kisah di Balik Lagu Koes Plus yang Penuh Kerinduan
Nomo memilih meninggalkan kelompok karena ingin lebih memperhatikan kehidupan keluarga dan menjalankan aktivitas di luar musik. Keputusan tersebut kemudian membuat Tonny mencari pengganti dan akhirnya memilih Murry.
Perubahan tersebut sempat membuat hubungan antaranggota keluarga memanas. Namun, dari persoalan itulah Koes Plus justru lahir dan kemudian berkembang menjadi salah satu grup musik paling berpengaruh di Indonesia.
Menariknya, perjalanan Koes Plus juga tidak langsung mulus. Album awal mereka belum langsung mendapatkan sambutan besar. Popularitas mereka baru semakin melejit setelah melahirkan sejumlah lagu yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Koes Plus kemudian dikenal bukan hanya karena musik pop dan rock, tetapi juga kemampuannya mengeksplorasi berbagai warna musik. Mereka membawakan lagu dengan sentuhan pop, rock and roll, balada hingga keroncong.
Kekuatan lain Koes Plus adalah keberanian menggunakan bahasa Indonesia ketika musik Barat dan lagu berbahasa Inggris masih sangat kuat memengaruhi perkembangan musik anak muda.
Dari perjalanan tersebut, Koes Plus akhirnya tidak sekadar menjadi nama sebuah grup musik. Mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang musik populer Indonesia.
Ironisnya, kelompok yang namanya lahir dari perubahan personel dan terinspirasi dari sebuah kata dalam iklan obat itu justru kemudian menghasilkan begitu banyak lagu yang bertahan hingga puluhan tahun. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban