Sering Merasa Punya Skill Saat Judi Online? Psikiater RSCM Bedah Pemicu Kecanduan Judi Online

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 17:53 WIB
Ilustrasi kecanduan judi online. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi kecanduan judi online. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Perilaku kecanduan judi online (judol) ternyata tidak sekadar didorong oleh hasrat mendapatkan uang secara instan, melainkan berkaitan erat dengan gangguan pola pikir pemainnya.

Psikiater Adiksi sekaligus Kepala Departemen Psikiatri RSCM FKUI, dr. Kristiana Sist, menjelaskan adanya fenomena illusion of control atau ilusi kontrol yang membuat seseorang merasa memiliki kemampuan untuk mengendalikan hasil permainan.

Menurut dr. Kristiana, ilusi kontrol terjadi ketika pemain menganggap kemenangan yang diperoleh merupakan buah dari kemampuan atau trik tertentu, bukan murni faktor keberuntungan.

Baca Juga: Marak Akun Judi Online Membanjiri Kolom Komentar Instagram, Begini Respons Komdigi

Keyakinan keliru tersebut lazim muncul setelah seseorang mengantongi kemenangan di awal permainan.

"Dia merasa dia mampu bermain untuk menang bukan by chance (kebetulan, Red)," ujar dr. Kristiana dalam tayangan video kanal Youtube Malaka.

Kesalahan Kognitif dan Lonjakan Dopamin

Keyakinan berlebih tersebut lambat laun berkembang menjadi cognitive error atau kesalahan dalam berpikir.

Pemain mulai terobsesi mencari pola atau rumus tertentu yang dianggap bisa mendongkrak peluang menang.

"Mereka merasa punya skill untuk menang, by skill not by chance," imbuhnya.

Akibat pola pikir tersebut, pemain kerap nekat menggelontorkan modal walau sudah mengalami kerugian besar.

Mereka tetap percaya bahwa kemenangan tinggal menunggu waktu jika berhasil menemukan pola permainan yang tepat.

Dari sudut pandang medis, dr. Kristiana membeberkan bahwa kecanduan berkaitan langsung dengan sistem otak dan neurotransmiter, khususnya dopamin yang mengatur rasa senang dan sistem penghargaan.

Hasrat mendapatkan sensasi puas secara cepat mendorong otak untuk mengulangi aktivitas judi terus-menerus.

Faktor Risiko dan Gejala Kecanduan

Beberapa karakter psikologis juga dinilai memicu seseorang lebih rentan terjerat judi online.

Di antaranya sifat mudah bosan, gemar tantangan berisiko, menginginkan hasil serbainstan, serta lemahnya kemampuan menghadapi masalah (coping mechanism).

Kondisi gangguan kecemasan, depresi, hingga kebutuhan akan validasi sosial turut memparah potensi kecanduan.

Tanda-tanda kecanduan mulai nampak jelas ketika seseorang kehilangan kendali diri dan menempatkan judi online sebagai prioritas utama.

Perilaku ini umumnya diikuti dengan sikap manipulatif seperti berbohong, menggunakan uang kebutuhan pokok, hingga nekat berutang demi bisa bertaruh kembali.

Penanganan Medis Secara Menyeluruh

Guna memutus rantai kecanduan, penanganan medis dilakukan secara holistik mencakup aspek perilaku, kondisi saraf otak, psikologis, hingga lingkungan sosial.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk merekonstruksi pola pikir dan merombak kesalahan kognitif pasien.

Selain terapi psikologis, intervensi medis juga melibatkan pemberian obat-obatan khusus untuk menekan rasa ketagihan (craving), serta teknologi stimulasi elektromagnetik berupa Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). (*)

 

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
kecanduan otak judi online psikologis