RADARTUBAN – Sebuah ajang olahraga ekstrem berakhir menjadi bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah ultramarathon dunia.
Lomba lari lintas alam bertajuk Gansu Ultramarathon sepanjang 100 kilometer yang digelar di Kota Bayin, Provinsi Gansu, Tiongkok, merenggut nyawa 21 pelari dari total 172 peserta pada 2021 lalu.
Lomba yang bergulir sejak pukul 09.00 pagi waktu setempat awalnya disambut cuaca cerah. Sebagian besar peserta hanya mengenakan pakaian lari ringan seperti kaus dan celana pendek.
Perlengkapan cuaca dingin disimpan dalam tas ransel cadangan yang dititipkan kepada panitia untuk diambil di kilometer 62.
Baca Juga: Lari di Atas Sejarah, Tantangan Ekstrem Great Wall of China Marathon
Namun, saat peserta melintasi rute perbukitan batu gersang di ketinggian 1.000 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut, khususnya pada rute rawan antara Pos 2 dan Pos 3, cuaca mendadak memburuk secara drastis.
Suhu udara anjlok mendekati titik beku disertai angin kencang, kabut tebal, dan hujan es.
Para pelari terjebak di area terbuka tanpa tempat berteduh. Angin kencang menerbangkan penanda jalan, sementara tidak ada petugas panitia yang bersiaga.
Meskipun dibekali tombol darurat GPS, sinyal komunikasi di area terpencil tersebut terputus total. Panitia dinilai gagal mengantisipasi ketiadaan sinyal dan terlambat memberikan pertolongan.
"Hujan mulai turun, bukan hujan air biasa tapi hujan es sambil dibarengin kabut yang cukup tebal dan angin yang besar,” bunyi narasi dalam tayangan video kanal Ingin Bercerita.
“Para pelari seperti memang sedang disiksa sendirian di tengah-tengah kondisi alam yang benar-benar buruk dan berbahaya," lanjut narasi tersebut.
Aksi Heroik Penggembala Domba Lokal
Di tengah situasi mencekam, aksi penyelamatan datang dari seorang penggembala domba lokal bernama Zhu Keming.
Saat berlindung di dalam goa batu, Zhu melihat beberapa pelari menderita hipotermia.
Ia memberanikan diri menerobos badai untuk menuntun 6 pelari masuk ke dalam goa, menyalakan api unggun, memberikan minuman hangat, serta merawat mereka hingga kondisi stabil.
Zhu kemudian turun bukit untuk mencari sinyal dan mengontak warga desa.
Sekitar 50 warga desa bergerak membawa perbekalan makanan, obat-obatan, dan selimut untuk membantu proses evakuasi.
"Di dalam goa yang tidak terlalu besar tersebut, mereka dirawat dengan baik oleh seorang penggembala domba lokal. Para pelari dibiarkan istirahat dan dibuatkan minuman hangat, sampai menyalakan api untuk mengeringkan pakaiannya yang basah," kisah narator.
Gugurnya Para Bintang dan Sanksi Hukum Panitia
Dari 172 peserta, sebanyak 21 pelari dinyatakan meninggal dunia akibat hipotermia parah.
Di antara korban tewas terdapat nama besar seperti Liang Jing (julukan "Jenderal Liang"), pelari ultramarathon paling berprestasi di Tiongkok, serta Huang Guanjun, atlet maraton tuna rungu pemenang Paralimpik Nasional Tiongkok.
Hasil investigasi mengungkapkan kelalaian fatal pihak penyelenggara, termasuk ketiadaan pos pemeriksaan di area terpencil dan tidak adanya rencana mitigasi cuaca ekstrem.
Pengadilan setempat menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara kepada lima panitia dan pejabat lokal atas kelalaian tugas.
Pihak penyelenggara dan asuransi juga memberikan kompensasi sebesar 950 ribu RMB atau sekitar Rp 2,1 miliar kepada keluarga masing-masing korban.
"Apapun alasannya, faktor keamanan dan keselamatan harus jadi prioritas utama. Dan perlu dicatat juga, jika alam udah menunjukkan tanda-tanda bahaya, jauh lebih bijak untuk tidak melawannya," tegas narator menutup ulasan tragedi tersebut. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari