RADARTUBAN – Banyak orang beranggapan bahwa warna kulit manusia ditentukan oleh seberapa panas cuaca atau suhu di tempat mereka tinggal.
Anggapan ini sering memicu pertanyaan di tengah masyarakat.
Mengapa warga Arab yang hidup di kawasan gurun dengan suhu ekstrem cenderung memiliki warna kulit lebih terang dibandingkan masyarakat Papua yang menetap di wilayah tropis?
Berdasarkan penjelasan ilmiah, faktor utama yang memengaruhi tingkat kegelapan warna kulit manusia bukanlah suhu udara.
Melainkan tingkat paparan radiasi ultraviolet (UV) yang diterima suatu wilayah selama ribuan tahun proses evolusi.
Baca Juga: Sains Buktikan Manusia Modern Satu Spesies, Perbedaan Warna Kulit Cuma Hasil Adaptasi Iklim
Dalam tayangan edukasi di kanal YouTube Humanova, dijelaskan bahwa rasa panas dan radiasi UV merupakan dua hal yang berbeda.
Suhu lingkungan yang membakar tidak selalu berbanding lurus dengan intensitas sinar ultraviolet yang menembus permukaan bumi.
"Orang Arab tinggal di salah satu tempat paling panas di bumi. Suhu di gurun Arabia bisa melewati 50 derajat Celcius. Tapi kulit mereka justru tidak segelap orang Papua. Ternyata yang menentukan warna kulit manusia bukan panas," ungkap narator dalam video tersebut.
Posisi Ekuator dan Peran Vital Melanin
Secara geografis, Pulau Papua berada sangat dekat dengan garis khatulistiwa (ekuator), yakni wilayah yang menerima pancaran sinar matahari hampir tegak lurus sepanjang tahun.
Kondisi alami tersebut membuat tingkat radiasi UV di kawasan ini sangat tinggi dan relatif stabil jika dibandingkan wilayah lain di dunia.
Paparan radiasi UV yang intens selama ribuan generasi mendorong tubuh manusia melakukan adaptasi biologis dengan meningkatkan produksi melanin, yakni pigmen alami penyedia warna pada kulit.
Melanin berfungsi sebagai benteng pelindung alami untuk meminimalkan dampak buruk radiasi ultraviolet terhadap organ tubuh.
Salah satu fungsi vital melanin adalah menjaga ketersediaan asam folat (vitamin B9) dalam tubuh.
Nutrisi ini memegang peranan krusial dalam pembentukan sel darah, kesehatan reproduksi, hingga perkembangan janin.
Oleh karena itu, populasi yang hidup di wilayah dengan paparan UV tinggi secara evolusioner memiliki kadar pigmen gelap yang lebih dominan.
Letak Lintang dan Faktor Budaya Gurun
Di sisi lain, Jazirah Arab terletak pada posisi lintang yang lebih jauh dari garis khatulistiwa.
Meskipun kawasan tersebut terkenal dengan suhu gurun yang menyengat, tingkat radiasi UV tahunannya tidak setinggi kawasan tropis di sekitar ekuator.
Selain itu, kerapatan debu serta partikel pasir melayang di udara gurun turut membantu menyaring sebagian radiasi sebelum sampai ke tanah.
Faktor kebiasaan dan budaya lokal juga memengaruhi proses adaptasi tersebut.
Sejak zaman dahulu, masyarakat gurun memiliki tradisi mengenakan pakaian longgar yang menutup hampir seluruh area tubuh untuk melindungi diri dari sengatan panas dan angin berdebu.
Kondisi penutupan tubuh ini memicu kebutuhan biologis untuk menyerap sinar UV demi sintesis vitamin D, sehingga menjadi salah satu penentu arah adaptasi evolusioner kulit mereka.
Perbedaan warna kulit antara masyarakat Arab dan Papua membuktikan bahwa evolusi fisik manusia dipengaruhi oleh akumulasi faktor lingkungan yang kompleks.
Bukan sekadar tingginya derajat suhu udara, melainkan kombinasi radiasi UV, kebutuhan nutrisi biologis, serta gaya hidup yang berlangsung selama ribuan tahun. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari