RADARTUBAN - Tan Malaka melahirkan Madilog pada 1943 sebagai gagasan untuk mendorong masyarakat Indonesia berpikir rasional dan ilmiah di tengah tekanan kolonialisme, feodalisme, serta budaya mistisisme.
Karya yang merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika tersebut disusun Tan Malaka ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang.
Buku itu tidak hanya membahas filsafat, tetapi juga menawarkan cara berpikir untuk membongkar pola pikir yang dianggap menghambat kemajuan masyarakat.
Baca Juga: Tan Malaka Kembali Populer Saat Hidup Makin Sulit, Cuma Tren Atau Keresahan Gen Z?
Dalam ulasan yang dirilis kanal YouTube Luciveda, Madilog digambarkan sebagai upaya membedah persoalan feodalisme dan mistisisme yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.
Kritik Pola Pikir yang Pasrah
Tan Malaka berpandangan, perjuangan melawan penjajahan tidak cukup dilakukan melalui perlawanan fisik.
Menurut pemikirannya, perubahan juga harus dimulai dari cara masyarakat memahami realitas.
Masyarakat yang masih terbelenggu mitos, takhayul, dan budaya pasrah atau nerimo dinilai akan kesulitan membangun perubahan yang mendasar.
Revolusi fisik tanpa perubahan cara berpikir, dalam gagasan tersebut, berisiko hanya mengganti penguasa tanpa menghapus pola penindasan.
Melalui Madilog, Tan Malaka merumuskan tiga fondasi berpikir yang menjadi inti gagasannya.
Pertama, Materialisme. Konsep ini menekankan pentingnya berpijak pada fakta, data, serta realitas objektif, bukan pada dongeng, takhayul, atau ritual yang tidak didasarkan pada pembuktian.
Kedua, Dialektika, yakni cara memahami berbagai pertentangan dan perubahan dalam kehidupan sosial.
Pertentangan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses yang dapat mendorong lahirnya perubahan.
Ketiga, Logika, yang digunakan untuk menyaring informasi dan menilai apakah suatu pernyataan memiliki dasar yang masuk akal atau tidak.
Salah satu kritik Tan Malaka terhadap pola pikir masyarakat pada masa itu tercermin dalam kutipan yang disampaikan dalam ulasan Luciveda.
"Bangsaku lebih takut pada hantu gunung daripada penjajah yang merampas tanahnya," tulis Tan Malaka dalam bukunya.
Madilog dan Tantangan Era Digital
Pemikiran tersebut kemudian berhadapan dengan berbagai kekuatan yang mempertahankan tatanan lama.
Gagasan Tan Malaka dianggap menantang pemerintah kolonial Belanda, pemerintahan militer Jepang, serta sebagian elite lokal dan priyayi yang memperoleh keuntungan dari struktur feodal.
Karena sifat pemikirannya yang kritis, karya dan gagasan Tan Malaka sempat menghadapi pelarangan dan tekanan dari penguasa dalam berbagai periode sejarah Indonesia.
Namun, pembahasan mengenai Madilog tidak berhenti pada konteks sejarah.
Ulasan Luciveda menilai gagasan tersebut masih dapat digunakan untuk membaca persoalan masyarakat di era digital.
Arus informasi yang semakin deras menghadirkan tantangan baru berupa disinformasi atau hoaks, pengaruh algoritma media sosial, budaya konsumtif, hingga kecenderungan menginginkan segala sesuatu secara instan.
Dalam konteks tersebut, tiga prinsip Madilog dapat dipahami sebagai ajakan untuk memeriksa fakta, melihat persoalan secara kritis, dan menggunakan penalaran sebelum menerima atau menyebarkan sebuah informasi.
Dengan demikian, warisan pemikiran Tan Malaka tidak hanya berada dalam catatan sejarah.
Madilog juga menjadi bagian dari perdebatan mengenai pentingnya kemampuan berpikir independen di tengah perubahan informasi yang semakin cepat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari