RADARTUBAN – Nama Saranjana kembali menjadi perbincangan.
Urban legend tentang kota gaib di Kalimantan Selatan tersebut tak hanya menarik perhatian karena kisah mistisnya, tetapi juga karena jejak sejarah dan pengalaman orang-orang yang pernah menelusurinya.
Salah satunya penulis sekaligus kreator konten Gusti Gina. Dalam perbincangannya di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, Gina menceritakan pengalamannya menelusuri jejak Saranjana hingga perjalanan batin yang membuatnya memutuskan mengambil jeda dari konten-konten bertema horor.
Baca Juga: Bossman Sontoloyo dan Helmy Yahya Resmi Duduki Kursi Strategis BJB, Berikut Daftar Pengurus Barunya
Saranjana selama ini dikenal luas sebagai urban legend di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan. Dalam sejumlah cerita yang berkembang, wilayah tersebut digambarkan sebagai kota gaib dengan kehidupan modern dan teknologi yang disebut jauh lebih maju.
Di sisi lain, nama Saranjana juga dikaitkan dengan catatan sejarah. Wilayah tersebut disebut pernah tercantum dalam peta kuno masa Hindia Belanda pada abad ke-19 dengan nama "Tanjung Saranjana".
Berdasarkan penelusuran sejarah bersama sejarawan lokal, kisah mengenai Saranjana juga dikaitkan dengan memori kolektif masyarakat mengenai sejarah Kerajaan Banjar serta migrasi suku Mandar dari Sulawesi ke Pulau Laut.
Meski eksistensi kota gaib Saranjana tidak terlepas dari cerita dan keyakinan masyarakat, Gina mengaku semakin percaya setelah mendatangi langsung lokasi tersebut.
Dia juga menemui sejumlah informan dan mendengar kesaksian warga lokal yang meyakini adanya dimensi lain yang hidup berdampingan dengan manusia.
"Saranjana pasti yang bisa saya jawab itu adalah urban legend ya... Tapi kalau ditanya taraf 1 sampai 10 kamu percaya atau tidak kalau Saranjana itu ada, mungkin saya taruh delapan deh, dasarnya karena saya meyakini alam gaib itu memang ada dan kita memang berdampingan," ungkap Gusti Gina.
Di balik popularitas kisah mistis Saranjana, Gina kini memilih mengambil jeda dari konten horor. Dia mulai lebih fokus pada pengembangan diri atau self-development.
Perjalanan batin dan refleksinya selama setahun terakhir kemudian dituangkan dalam karya terbaru berupa buku memoar.
Buku tersebut mengajak pembaca untuk lebih sadar atau mindful dalam menjalani kehidupan, memutus pola yang dianggap toksik, serta berani mengambil kendali atas pilihan hidupnya sendiri.
Bagi Gina, perjalanan menelusuri kisah Saranjana tidak hanya menjadi pengalaman mencari jawaban mengenai sebuah urban legend.
Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami diri dan menentukan arah kehidupan yang ingin dijalani. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban