Benarkah Ada Reinkarnasi dalam Islam? Ustaz Firanda Ungkap Penjelasannya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 09:12 WIB
Ilustrasi ruh yang keluar dari tubuh. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi ruh yang keluar dari tubuh. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Apakah Islam mengenal konsep reinkarnasi?

Pertanyaan tersebut kerap muncul ketika masyarakat membahas kepercayaan tentang kehidupan masa lalu atau keyakinan bahwa ruh seseorang dapat berpindah ke tubuh manusia lain setelah kematian.

Dalam Islam, konsep tersebut dikenal dengan istilah tanasuhul arwah.

Namun, menurut dai sekaligus akademisi lulusan Universitas Islam Madinah, Ustaz Dr. Firanda Andirja, M.A., keyakinan mengenai perpindahan ruh dari satu jasad ke jasad lainnya setelah kematian tidak dikenal dalam akidah Islam.

Baca Juga: Felix Siauw Ungkap Pandangan soal Islam Ala Prabowo, Kritik Pujian yang Dinilai Berlebihan

Penjelasan tersebut disampaikan Ustaz Firanda dalam kajian tauhid yang ditayangkan melalui kanal YouTube pribadinya.

Dia menjelaskan, bahwa konsep reinkarnasi berbeda dengan pemahaman Islam mengenai perjalanan manusia setelah meninggal dunia.

Menurutnya, keyakinan tanasuhul arwah berkembang dari pemikiran filsafat dan sejumlah ajaran di luar Islam. Konsep tersebut kemudian dikenal dalam beberapa kelompok keagamaan tertentu.

Ustaz Firanda menegaskan, seorang muslim tidak meyakini bahwa setelah kematian ruh akan kembali ke dunia untuk menempati jasad orang lain.

"Keyakinan akan tanasuhul arwah atau reinkarnasi ini secara tegas bertentangan dengan akidah Islam. Para ulama terdahulu telah menegaskan bahwa meyakini ruh seseorang bisa berpindah ke jasad lain setelah meninggal adalah bentuk penyimpangan akidah yang nyata," ujarnya menerangkan.

Islam Mengenal Alam Barzakh Setelah Kematian

Lantas, bagaimana Islam menjelaskan perjalanan manusia setelah meninggal?

Ustaz Firanda menerangkan bahwa Islam memiliki tahapan kehidupan manusia yang berbeda.

Perjalanan tersebut dimulai sejak berada di alam rahim, kemudian menjalani kehidupan di dunia, mengalami kematian, berada di alam barzakh, hingga akhirnya dibangkitkan untuk kehidupan akhirat.

Konsep tersebut berbeda dengan reinkarnasi yang meyakini seseorang dapat kembali menjalani kehidupan di dunia melalui tubuh atau jasad yang berbeda.

Dalam pandangan Islam yang dijelaskan Ustaz Firanda, kematian menjadi batas antara kehidupan dunia dan fase berikutnya.

Ruh tidak kembali untuk menjalani kehidupan baru sebagai manusia lain, tetapi berada di alam barzakh hingga datangnya hari kebangkitan.

Dia juga menyinggung pemahaman sebagian orang yang mengaitkan sejumlah ayat Al-Qur'an dengan gagasan reinkarnasi.

Menurutnya, ayat-ayat tersebut tidak dapat dipahami secara terpisah dari penafsiran para ulama dan konteks yang melatarbelakanginya.

Karena itu, kisah umat terdahulu ataupun pembahasan mengenai hukuman setelah kematian tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk membenarkan perpindahan ruh dari satu jasad ke jasad lainnya.

Ruh Tidak Kembali ke Dunia sebagai Jasad Lain

Ustaz Firanda menjelaskan, konsep pertanggungjawaban manusia dalam Islam juga tidak dilakukan melalui kelahiran kembali ke dunia.

Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya dan menghadapi pembalasan pada kehidupan akhirat.

Pada hari kebangkitan, manusia akan dibangkitkan untuk menjalani proses pertanggungjawaban tersebut.

"Al-Qur'an secara tegas membatasi fase kematian dan kehidupan manusia. Pembalasan atas amal perbuatan tidak dilakukan dengan melahirkan kembali seseorang menjadi jasad atau wujud lain di dunia, melainkan dipertanggungjawabkan kelak di Hari Pembalasan saat ruh disatukan kembali dengan jasad aslinya," pungkasnya.

Berdasarkan penjelasan Ustaz Firanda, Islam tidak memiliki konsep reinkarnasi berupa perpindahan ruh manusia yang telah meninggal ke jasad manusia lain.

Islam justru mengajarkan adanya kehidupan setelah kematian melalui fase barzakh dan kemudian kebangkitan menuju kehidupan akhirat. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
tanasuhul arwah kehidupan setelah kematian islam reinkarnasi kehidupan manusia