Ini Alasan Hari Minggu Pagi Sangat Istimewa Bagi Milenial, Hal yang Tak Bisa Terulang

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:43 WIB
Minggu zaman dulu terasa istimewa bagi generasi 90-an, penelitian tentang nostalgia media membantu menjelaskan kenangan yang membekas.
Minggu zaman dulu terasa istimewa bagi generasi 90-an, penelitian tentang nostalgia media membantu menjelaskan kenangan yang membekas.

RADARTUBAN – Bagi generasi 90-an yang tumbuh pada era 2000-an, hari Minggu memiliki tempat tersendiri dalam kenangan masa kecil.

Sejak pagi, televisi menjadi hiburan utama, kartun favorit ditunggu-tunggu, sementara waktu luang dimanfaatkan untuk bermain bersama teman hingga menjelang sore.

Minggu bukan sekadar hari libur dari rutinitas sekolah. Ada kebiasaan sederhana yang membuat hari tersebut terasa lebih istimewa dibandingkan hari-hari lainnya.

Baca Juga: Setelah 35 Tahun! Ini Alasan Doraemon Tak Lagi Tayang Minggu Pagi

Salah satu yang paling melekat adalah menonton kartun di televisi. Doraemon, Crayon Shinchan, Dragon Ball, hingga berbagai anime populer menjadi bagian dari hiburan anak-anak pada masa itu.

Bagi sebagian anak, bangun pagi saat hari Minggu justru terasa lebih menyenangkan daripada bangun untuk berangkat sekolah. Mereka tidak ingin melewatkan tayangan kesayangan yang memiliki jadwal tertentu.

Berbeda dengan sekarang, ketika berbagai tayangan bisa diakses melalui layanan streaming, anak-anak era 2000-an harus menyesuaikan diri dengan jadwal televisi.

Jika terlambat bangun atau melewatkan episode tertentu, mereka harus menunggu kesempatan berikutnya untuk kembali menyaksikan tayangan tersebut.

Keterbatasan pilihan itu justru membuat pengalaman menonton terasa lebih berkesan. Ada rasa senang ketika kartun favorit muncul di layar televisi, terutama jika bisa menikmatinya bersama anggota keluarga.

Setelah puas menonton televisi, Minggu pagi biasanya berlanjut dengan aktivitas di luar rumah. Anak-anak bersepeda, bermain sepak bola, layangan, kelereng, atau petak umpet bersama teman-teman sebaya.

Tidak perlu membuat janji melalui aplikasi pesan. Mendatangi rumah teman atau memanggilnya dari depan pagar sudah cukup untuk memulai permainan.

Lapangan, halaman rumah, dan jalanan kampung menjadi ruang bermain yang menghadirkan banyak cerita. Permainan sederhana itu sering kali berlangsung hingga siang, bahkan sore, sampai orang tua mengingatkan agar segera pulang.

Uang jajan juga menjadi bagian dari kenangan tersebut. Membeli aneka makanan ringan, es lilin, permen, atau jajanan di warung dekat rumah bisa menjadi kesenangan tersendiri.

Salah satunya tertulis dalam penelitian, Wallowing in Media Past: Media-Induced Nostalgia’s Connection to Parasocial Relationships.

Baca Juga: Mengenal Apa itu Fenomena Sunday Blues, Mengapa Minggu Sore Malah Bikin Cemas Hadapi Senin?

Dalam jurnal yang ditulis Tim Wulf dan Diana Rieger, Communication Research Reports (2018, tertulis penelitian terhadap 96 responden ini menemukan hubungan signifikan antara nostalgia akibat media dan keterikatan parasosial dengan karakter media pada masa lalu.

"Temuan ini membantu menjelaskan mengapa tokoh kartun dan tayangan masa kecil bisa terus membekas hingga dewasa," tulis jurnal tersebut.

Bagi sebagian anak, kebahagiaan tidak harus diwujudkan melalui perjalanan ke pusat perbelanjaan atau hiburan berbayar. Berkumpul bersama teman sambil menikmati jajanan sederhana sudah cukup untuk membuat hari Minggu terasa menyenangkan.

Seiring perkembangan teknologi, cara anak-anak menikmati hari libur pun mengalami perubahan. Ponsel pintar, media sosial, gim daring, dan layanan streaming menawarkan lebih banyak pilihan hiburan yang dapat diakses kapan saja.

Perubahan tersebut membawa kemudahan, tetapi juga mengubah kebiasaan dalam menikmati waktu luang. Jika dahulu anak-anak harus menunggu tayangan televisi atau mencari teman untuk bermain, sekarang hiburan bisa dinikmati secara individual melalui perangkat digital.

Meski demikian, bukan berarti anak-anak masa kini tidak memiliki kenangan istimewa. Setiap generasi mempunyai pengalaman dan cara tersendiri dalam menikmati masa kecilnya.

Bagi generasi 90-an, salah satu hal yang membuat Minggu era 2000-an terasa spesial adalah pola kegiatan yang sederhana dan dinantikan. Ada kartun pada pagi hari, permainan bersama teman, jajanan di warung, hingga waktu bersantai bersama keluarga.

Namun, Minggu juga menyimpan perasaan lain ketika sore mulai tiba. Kegembiraan hari libur perlahan bercampur dengan kesadaran bahwa Senin sudah menanti.

Sebagian anak mulai mengingat pekerjaan rumah yang belum selesai, menyiapkan seragam, atau membersihkan sepatu untuk sekolah keesokan harinya. Minggu sore pun menjadi penanda bahwa waktu bermain hampir berakhir.

Kini, ketika kenangan itu kembali muncul, yang dirindukan bukan hanya tayangan televisi atau permainan masa kecil. Ada pula suasana kebersamaan dan perasaan sederhana ketika kebahagiaan bisa ditemukan melalui hal-hal kecil.

Mungkin, itulah yang membuat Minggu era 2000-an tetap istimewa dalam ingatan generasi 90-an. Bukan karena semuanya lebih baik daripada sekarang, melainkan karena pengalaman tersebut menjadi bagian dari masa kecil yang tidak bisa diulang.

Dulu, Minggu pagi dinantikan karena ada kartun yang ingin ditonton dan teman-teman yang siap diajak bermain. Sekarang, kenangan itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan masa kecil sering kali hadir melalui hal-hal sederhana yang baru terasa berharga setelah waktu berlalu. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Milenial kartun Minggu