Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lomba Sihir Ungkap Jurus Bisnis dan Filosofi Musik: Tak Hanya Soal Lagu, Tapi Soal Cara Bertahan

Imanda Najwa Kirana Dewi • Rabu, 15 Oktober 2025 | 21:10 WIB
Lomba Sihir, band pop alternatif asal Indonesia yang dikenal dengan konsep kreatif dan gaya musik khas.
Lomba Sihir, band pop alternatif asal Indonesia yang dikenal dengan konsep kreatif dan gaya musik khas.

RADARTUBAN – Di balik alunan musiknya yang khas dan lirik yang penuh makna, grup band Lomba Sihir rupanya menyimpan strategi bisnis matang dan filosofi kreatif yang unik.

Dalam wawancara eksklusif bersama Raditya Dika, band beranggotakan Baskara Putra, Rayhan Noor, Tristan Juliano, Enrico Octaviano, dan Natasha Udu ini membeberkan perjalanan mereka dari proyek iseng pandemi hingga menjadi entitas kreatif yang solid.

Dari Proyek Sampingan Jadi Identitas Baru

Lomba Sihir lahir di masa pandemi COVID-19. Awalnya, kelima personel hanya menjadi session player untuk proyek solo Hindia milik Baskara Putra.

Namun, saat panggung musik terhenti, mereka justru menemukan ruang eksplorasi baru.

Dari ruang studio kecil itu, tercipta band dengan nama yang punya daya magis tersendiri.

“Nama Lomba Sihir kami ambil dari band kampus Baskara, Lembaga Lomba Sihir. Disingkat agar lebih mudah diingat dan terasa punya ‘magis’ tersendiri,” ujar Natasha Udu.

Album debut mereka yang melahirkan lagu populer Jalan Tikus menjadi bukti bahwa musik bisa lahir dari keterbatasan.

Inspirasi mereka datang dari keseharian di Jakarta saat pandemi, kerinduan terhadap rutinitas, dan refleksi waktu yang terhenti.

Musik Sebagai Refleksi dan Ruang Cerita

Setiap lagu yang mereka tulis berangkat dari pengalaman personal yang terasa universal.

“Kami selalu ingin setiap ide terasa relevan buat kami berlima,” kata Udu. “Dari situ muncul benang merah: tentang manusia, waktu, dan takdir.”

Salah satu contohnya adalah lagu Sofa yang terinspirasi dari obrolan ringan antaranggota.

“Band ini seperti sofa di ruang tengah — jadi saksi perjalanan dan pertumbuhan bersama,” tambahnya.

Di Balik Studio, Ada Manajemen dan Strategi Bisnis

Menariknya, seluruh personel Lomba Sihir bukan hanya musisi, tapi juga produser dengan peran manajerial jelas.

Baskara menangani aspek kreatif dan visual, Rayhan mengurus keuangan, Enrico fokus pada produksi musik, sementara Udu memegang manajemen.

Tristan pun menjalankan bisnis makanan protein untuk hewan — yang bahkan sempat diselipkan dalam lirik lagu mereka.

Namun, di luar panggung, band ini punya visi bisnis jangka panjang. “Kami ingin berhenti menukar waktu dengan uang,” ujar Rayhan Noor.

Untuk itu, mereka memperkuat lini merchandise yang dirilis rutin setiap bulan dengan riset pasar dan analisis data.

Tak berhenti di sana, Lomba Sihir juga sedang menyiapkan secondary IP (Intellectual Property) berupa karakter maskot, terinspirasi dari konsep BT21 milik BTS dan model bisnis Walt Disney.

Tujuannya: menciptakan dunia imajinatif yang bisa hidup di luar musik.

Bocoran Album Baru: “Obrolan Jam 3 Pagi”

Band ini juga tengah menyiapkan album kedua bertajuk “Obrolan Jam 3 Pagi” yang akan dirilis pada 7 Mei 2025.

Album berisi 16 lagu ini menggali suasana nongkrong dan percakapan dini hari — saat pikiran paling jujur sering muncul di tengah sunyi malam.

“Kami ingin pendengar bisa merasakan sesuatu — entah tenang, hangat, atau malah bingung,” ujar Rayhan sambil tersenyum.

Dalam album baru ini, mereka beralih dari suara sintetis ke instrumen asli untuk menghadirkan kesan lebih organik dan personal.

Musik, Bisnis, dan Magis yang Bertahan Lama

Bagi Lomba Sihir, kesuksesan band modern bukan hanya di panggung atau chart musik. Mereka memandang band sebagai entitas kreatif yang juga harus cerdas berbisnis.

Dengan kombinasi antara idealisme, strategi, dan kerja kolektif, mereka membangun model band yang sadar arah dan identitas.

“Keajaiban bukan soal siapa yang paling cepat bersinar,” ujar Baskara menutup wawancara. “Tapi siapa yang bisa terus menyihir lebih lama.” (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#musik #bisnis #filosofi #lomba sihir #pandemi #grup band