RADARTUBAN - Penemuan alat bela diri berusia 2.700 tahun di Turki menarik perhatian para arkeolog.
Alat tersebut, yang kemungkinan besar merupakan senjata untuk pertahanan diri, ditemukan di situs arkeologi di daerah yang dikenal sebagai ibu kota kuno Phrygia, yang terletak di wilayah tengah Turki.
Bentuk alat tersebut umumnya mirip dengan senjata seperti pedang atau belati, dan terbuat dari logam yang sudah teroksidasi.
Desainnya mungkin mencakup pegangan yang ergonomis dan mata senjata yang tajam, yang memungkinkan pengguna untuk menggunakannya dalam pertarungan.
Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang teknik dan alat pertahanan diri yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu.
Alat ini tidak hanya memiliki nilai sejarah tetapi juga mencerminkan keterampilan dan teknologi pengolahan logam pada zaman kuno. Penemuan ini dapat membantu memahami lebih dalam mengenai kehidupan dan praktik bela diri masyarakat kuno di wilayah tersebut.
Penemuan alat bela diri berusia 2.700 tahun di Turki diumumkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Mehmet Ersoy, melalui akun resmi Instagram dan X (sebelumnya Twitter) miliknya.
Dalam pengumuman tersebut, ia menyampaikan pentingnya penemuan ini dalam konteks sejarah dan kebudayaan Turki, serta bagaimana artefak tersebut dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai teknik dan alat pertahanan diri yang digunakan oleh masyarakat kuno.
Perisai ini kemungkinan digunakan dalam pertempuran untuk melindungi penggunanya dari serangan, sementara helm berfungsi untuk melindungi kepala.
Temuan ini tidak hanya menambah koleksi artefak militer kuno, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang teknik pertahanan dan peralatan perang yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu.
Kerajaan Urartu, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Van, merupakan kerajaan besar yang berdiri antara abad kesembilan dan keenam SM di wilayah yang kini menjadi bagian dari Turki, Armenia, dan Iran. Pada masa itu, Urartu dikenal dengan kerajinan logamnya yang berkembang pesat, termasuk pembuatan senjata, alat, dan perhiasan.
Kerajaan ini memiliki budaya yang kaya dan terkenal karena kemampuan mereka dalam metalurgi, yang terlihat dari artefak-artefak seperti perisai dan helm yang baru ditemukan.
Selain keahlian dalam kerajinan logam, Urartu juga dikenal karena arsitekturnya yang megah, sistem irigasi, serta struktur sosial dan militer yang kompleks.
Penemuan artefak dari kerajaan ini tidak hanya menambah pengetahuan tentang teknik dan kehidupan masyarakat Urartu, tetapi juga memberikan gambaran yang lebih luas tentang sejarah dan peradaban di kawasan tersebut.
Baju besi yang ditemukan di dalam kompleks kuil di Kastil Ayanis, sebuah benteng kuno dekat Danau Van di Turki timur, merupakan bagian penting dari warisan Kerajaan Urartu.
Penemuan ini memperkuat reputasi Urartu sebagai kerajaan yang terkenal dengan kekuatan militernya, serta seni dan keterampilan dalam kerajinan logam.
Kastil Ayanis sendiri merupakan benteng pertahanan yang strategis, memperlihatkan pentingnya kawasan ini dalam jaringan militer Urartu.
Penemuan baju besi dan artefak lainnya di situs Ayanis bukanlah yang pertama di lokasi tersebut. Paul Zimansky, seorang profesor sejarah di Universitas Stony Brook, mengonfirmasi bahwa penemuan sebelumnya telah dilakukan di sana.
Zimansky sendiri pernah terlibat dalam penggalian di Ayanis pada tahun 1997 dan 2009, yang menunjukkan bahwa situs ini terus memberikan penemuan arkeologis yang signifikan.
Paul Zimansky menyatakan bahwa Kastil Ayanis merupakan salah satu situs terkaya dari Kerajaan Urartu di Turki, salah satu alasannya adalah banyaknya artefak perunggu yang ditemukan di kuilnya.
Kastil ini tidak hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi juga memiliki kuil yang menjadi tempat penyimpanan artefak-artefak berharga, termasuk peralatan militer seperti baju besi, perisai, dan helm.
Pendapat Paul Zimansky didukung oleh Atila Batmaz, seorang profesor arkeologi dari Universitas Ege di Turki. Batmaz menyatakan bahwa penemuan artefak perang seperti baju besi, perisai, dan helm di Kastil Ayanis tidaklah mengejutkan.
Mengingat pentingnya kastil ini dalam sejarah Kerajaan Urartu, Ayanis memang dikenal sebagai pusat pertahanan dan kekuatan militer kerajaan.
Penemuan di situs Ayanis menunjukkan bahwa berbagai jejak masa lalu telah berhasil dikumpulkan, menjadikan lokasi ini sebagai pusat perhatian banyak arkeolog.
Artefak-artefak penting seperti baju besi, perisai, helm, dan peralatan perang lainnya tidak hanya memberikan wawasan tentang kehidupan militer dan teknologi logam Kerajaan Urartu, tetapi juga menggambarkan dimensi spiritual dan sosial masyarakat di masa itu. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama