RADARTUBAN - Nasib malang dialami oleh bayi asal Negeri Jiran, anak berumur 19 bulan itu harus kehilangan satu indung telur setelah didiagnosis menderita kanker ovarium.
Penyakit yang biasa dianggap momok bagi banyak perempuan dewasa itu justru menyerang bayi mungil di Malaysia. Bahkan, kanker ovarium yang dialaminya sudah masuk stadium tiga.
Melansir The Strait Times, semulanya sang ibu bernama Fallarystia Sintom, 25, mengaku heran terhadap perilaku anaknya belakangan ini. Bayi tersebut cenderung rewel dan selalu minta digendong.
Selain itu, ia menyadari bahwa buah hatinya mengalami sembelit dan perut kembung selama beberapa hari. Fallarystia juga mendapati si kecil sudah tidak seaktif seperti biasanya, dan lebih kerap menangis.
"Anak saya tidak nyaman. Dia belum bisa berbicara, sehingga hanya menangis ketika merasa kesakitan," katanya, dikutip pada Sabtu (12/10).
Keluarga pun bergegas mencari pertolongan dokter di daerah Sabah. Sayangnya, pengobatan tidak membuahkan hasil dan bayinya mengalami penurunan darah secara drastis.
Selanjutnya Fallarystia memindahkan putrinya ke rumah sakit khusus wanita dan anak setempat. Medis menemukan adanya tumor sepanjang 13,5 cm dalam tubuh bayi.
"Usai dioperasi Oktober lalu, dokter mengatakan kanker ovarium stadium tiga," bebernya.
Sebagai informasi, pada stadium tiga, kanker biasanya menyebar dari satu indung telur ovarium ke satu lainnya, lalu merebak ke area luar panggul seperti perut, kelenjar getah bening, bahkan permukaan hati.
Kanker ovarium sendiri adalah pertumbuhan sel di luar batas normal pada indung telur. Penyakit tersebut umumnya diidap oleh perempuan berusia 40 tahun ke atas.
"Anak saya masih sangat kecil dan indung telur sisi kanannya sudah dioperasi," ujarnya.
Bayi mungil Malaysia tersebut dijadwalkan akan menjalankan berbagai tahap pengobatan, seperti sesi kemoterapi yang dilakukan sesuai gadis itu pulih dari operasi pengangkatan indung telurnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama