RADARTUBAN - Amerika Serikat (AS) sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk memanfaatkan reaktor nuklir modular kecil (SMR), seiring meningkatnya minat global terhadap sumber energi rendah karbon.
Pejabat AS telah berdiskusi dengan rekan-rekan mereka dari Filipina, Singapura, dan Thailand mengenai potensi penggunaan teknologi ini.
Andrew Light, Asisten Menteri Energi Urusan Internasional di Departemen Energi AS, mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan di konferensi Singapore International Energy Week pada 22 Oktober.
Asia Tenggara, dengan populasi lebih dari setengah miliar jiwa, tengah mempertimbangkan tenaga nuklir sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Filipina menargetkan untuk memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama pada tahun 2032, diikuti oleh Vietnam dan Indonesia yang juga berencana mengadopsi teknologi ini.
Berbeda dengan reaktor nuklir tradisional yang besar dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, SMR jauh lebih kecil dan dapat diproduksi di pabrik. Reaktor ini kemudian dapat dikirim menggunakan truk atau kereta api, dan dirakit di lokasi, sehingga menghemat waktu dan biaya.
Meskipun teknologi SMR sedang dikembangkan oleh beberapa perusahaan AS, hingga kini belum digunakan secara komersial dalam skala besar. Light juga menyatakan bahwa ia telah berdiskusi dengan pejabat di Singapura yang mempertimbangkan pembangunan reaktor modular.
Para pejabat AS juga bertemu dengan rekan-rekan dari Thailand, yang sedang memperbarui perjanjian dengan AS untuk berbagi peralatan nuklir non-senjata.
Langkah ini menunjukkan komitmen AS untuk membantu negara-negara ASEAN dalam mengadopsi teknologi energi bersih dan berkelanjutan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama