RADARTUBAN- Ketegangan politik di Filipina semakin meningkat setelah Wakil Presiden Sara Duterte diduga mengancam nyawa Presiden Ferdinand Marcos Jr. Pihak Istana Kepresidenan menyatakan bahwa ancaman tersebut merupakan "ancaman nyata" yang membutuhkan respons cepat.
Dalam sebuah pengarahan daring pada Sabtu (23/11), Duterte, yang merupakan putri mantan Presiden Rodrigo Duterte, menyebutkan bahwa dia telah merencanakan langkah balasan jika dirinya menjadi korban pembunuhan.
"Saya sudah bicara dengan seseorang. Jika saya dibunuh, bunuh Marcos, Liza Araneta, dan Martin Romualdez," ujar Duterte, mengacu pada Presiden, istrinya, dan Ketua DPR Filipina. "Pastikan mereka semua tewas," tambahnya.
Kantor Komunikasi Kepresidenan menyatakan bahwa ancaman ini tidak bisa dianggap enteng. Sekretaris Eksekutif Lucas Bersamin telah melaporkan hal ini kepada Komando Keamanan Presiden.
"Ancaman terhadap keselamatan presiden, terutama yang diungkapkan secara terbuka, harus ditindak tegas," demikian bunyi pernyataan dari pihak istana.
Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Romeo Brawner, menegaskan bahwa militer tetap netral di tengah konflik politik ini dan berkomitmen pada Konstitusi.
"Kami menghadapi situasi yang membutuhkan solidaritas nasional," kata Brawner. "Angkatan bersenjata akan menjaga sikap netral dan tetap menghormati institusi demokrasi."
Hubungan antara Duterte dan Marcos mulai retak sejak Juni lalu ketika Duterte memutuskan untuk mundur dari kabinet. Ketegangan semakin memanas ketika sekutu Marcos di parlemen menyelidiki dugaan penyalahgunaan anggaran oleh kantor Wakil Presiden, tuduhan yang telah dibantah oleh Duterte.
Komando Keamanan Presiden menyatakan bahwa ancaman ini merupakan masalah serius yang berpotensi mengancam stabilitas nasional.
"Kami akan mengambil langkah tegas untuk memastikan keamanan Presiden dan keluarganya dari ancaman semacam ini," ujar pihak keamanan presiden.
Duterte juga melontarkan kritik tajam terhadap Marcos, menyebutkan bahwa presiden tidak memiliki kemampuan untuk memimpin negara.
Ia juga menuding bahwa sekutu Marcos di parlemen sedang mencoba memulai proses pemakzulan terhadap dirinya, terutama setelah kepala stafnya, Zuleika Lopez, ditahan karena dianggap menghalangi penyelidikan terkait penggunaan anggaran. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni