RADARTUBAN- China kembali menjadi sorotan dunia kesehatan dengan meningkatnya kasus Human Metapneumovirus (HMPV) yang kini menyebar di wilayah utara negara tersebut. Virus ini diketahui pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda pada tahun 2001.
Lonjakan kasus HMPV saat ini terutama menyerang anak-anak di bawah usia 14 tahun. Kondisi ini semakin parah selama musim dingin hingga awal musim semi. Virus ini dikenal menyerupai Respiratory Syncytial Virus (RSV) dengan masa inkubasi 3-5 hari. Penularan HMPV terjadi melalui droplet, kontak langsung, atau benda yang terkontaminasi.
Menurut laporan, HMPV cenderung menyerang kelompok berikut:
- Anak-anak di bawah usia 5 tahun.
- Lansia di atas usia 65 tahun.
- Penderita penyakit paru-paru kronis.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Gejala HMPV sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, batuk, dan hidung tersumbat. Pada kasus serius, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia atau bronkitis. Beberapa pasien juga mengalami mengi, radang paru-paru, hingga infeksi telinga.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai bahwa meski HMPV memiliki potensi untuk menyebar lintas negara, resikonya menjadi pandemi sangat kecil.
“Tingkat penularan HMPV lebih lambat dan tingkat keparahan penyakitnya lebih ringan dibandingkan dengan Covid-19,” ujar Dicky.
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk menangani HMPV. Namun, langkah pencegahan seperti mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan membersihkan permukaan benda yang sering disentuh sangat dianjurkan.
Penanganan medis, seperti terapi oksigen atau kortikosteroid, diperlukan untuk pasien dengan gejala berat.
Kementerian Kesehatan RI memastikan hingga kini belum ada laporan terkait kasus HMPV di Indonesia. Namun, risiko kasus impor tetap ada, terutama dari pelancong yang kembali dari wilayah Asia Timur seperti China dan Jepang.
Meski lonjakan kasus HMPV tidak diprediksi menjadi pandemi seperti Covid-19, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan dan menjaga kebersihan lingkungan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni