RADARTUBAN- Tragedi memilukan menimpa dunia penerbangan setelah pesawat Jeju Air dengan nomor penerbangan 7C2216 mengalami kecelakaan tragis di Bandara Internasional Muan pada Minggu (29/12).
Peristiwa ini menewaskan 179 orang, terdiri dari 175 penumpang dan empat awak kabin, dengan hanya dua pramugari yang selamat.
Kecelakaan ini menjadi sorotan global, terutama setelah video yang merekam momen terakhir sang pilot berusaha keras mengendalikan pesawat sebelum tabrakan tersebar luas di media sosial.
Dalam rekaman itu, terlihat sang pilot mencoba meraih panel kokpit, meski akhirnya pesawat menabrak beton di dekat pagar bandara hingga meledak hebat.
Unggahan bertajuk “Saat Terakhir Sang Pilot” menjadi viral, menimbulkan gelombang simpati dan kekaguman dari publik. Seorang netizen menulis, “Melihat perjuangan di detik terakhir, saya yakin ia sudah melakukan yang terbaik.”
Menurut Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan, insiden bermula ketika pesawat Boeing 737-800 tersebut menerima peringatan bird strike (tabrakan dengan burung) dari menara kontrol pada pukul 08.57 waktu setempat. Sang pilot segera mengirim sinyal darurat (mayday) dua menit kemudian.
Saat berusaha mendarat di landasan pacu nomor 1, pesawat menghadapi kendala roda pendaratan yang gagal terbuka. Pesawat akhirnya melaju melewati landasan pacu yang sedang dalam konstruksi dan menabrak beton, menimbulkan ledakan besar.
Kementerian menegaskan panjang landasan pacu, yang berkurang dari 2.800 meter menjadi 2.500 meter akibat konstruksi, bukanlah penyebab kecelakaan. "Pesawat jenis ini dapat mendarat di landasan sepanjang 1.500 hingga 1.600 meter," jelasnya.
Penyebab Sementara dan Tanggapan Ahli
Investigasi awal mengindikasikan bird strike dan cuaca buruk sebagai pemicu kerusakan mesin pesawat.
Sistem hidrolik yang bermasalah memaksa pilot menggunakan kontrol manual berbasis kabel, suatu teknik yang membutuhkan kekuatan fisik luar biasa.
“Jika sistem hidrolik gagal, pilot harus bekerja dengan kontrol manual. Ini adalah tantangan besar, terutama dalam situasi darurat,” ujar Jeong Yun-sik, Profesor Operasi Penerbangan dari Universitas Katolik Kwandong.
Aksi heroik sang pilot terus dikenang sebagai bukti pengorbanannya dalam mencoba meminimalkan dampak kecelakaan. Video detik-detik terakhir tersebut juga memicu diskusi mendalam tentang pentingnya sistem keselamatan penerbangan yang lebih andal.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan dunia penerbangan internasional. Publik memberikan penghormatan kepada para korban dan kru pesawat yang gugur dalam tugas, seraya menantikan hasil investigasi gabungan untuk mengungkap fakta-fakta lebih lanjut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni