RADARTUBAN - Pemerintah Australia mengeluarkan peringatan perjalanan kepada warganya yang berencana bepergian ke Vietnam dan Thailand pada Sabtu, 4 Januari 2025.
Langkah ini diambil menyusul laporan kasus campak keempat di negara bagian Victoria yang berkaitan dengan perjalanan ke kawasan Asia Tenggara.
"Kami mencatat adanya peningkatan laporan kasus campak dari para pelancong yang kembali ke Australia dalam beberapa minggu terakhir. Wabah penyakit ini juga dilaporkan meningkat di sejumlah negara, termasuk Vietnam dan Thailand," ujar dr. Evelyn Wong, Kepala Petugas Kesehatan Sementara Victoria, dalam pernyataannya.
Menurut informasi dari news.com.au, campak adalah penyakit menular yang mudah menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau bernapas.
Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia dan radang otak, hingga menyebabkan kematian. Gejala awal meliputi demam, batuk, mata merah, serta pilek, yang diikuti ruam merah dari wajah hingga ke seluruh tubuh.
Campak jarang ditemukan di Australia, namun pelancong yang terpapar virus di luar negeri dapat membawanya kembali. Wabah serupa juga tercatat di beberapa negara Asia seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam, serta kawasan lain seperti Timur Tengah, Afrika, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat.
Vietnam menjadi perhatian khusus setelah melaporkan lebih dari 20.000 dugaan kasus campak sepanjang 2024, termasuk hampir 5.000 kasus terkonfirmasi dan tujuh kematian, menurut data dari Kementerian Kesehatan Vietnam.
Baca Juga: WHO Kembali Peringatkan Waspadai Virus Oropouchem yang Sudah Renggut Nyawa di Brazil
Departemen Kesehatan Victoria merilis daftar lokasi paparan campak antara 19—28 Desember 2024.
Orang-orang yang berada di lokasi tersebut dianjurkan untuk memantau gejala hingga 18 hari setelah paparan, memakai masker, dan menghubungi fasilitas kesehatan sebelum memeriksakan diri guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Di New South Wales, peringatan serupa juga diterbitkan pada Malam Natal setelah seorang warga yang terinfeksi campak mengunjungi beberapa lokasi di wilayah tersebut sepulang dari Asia Tenggara. Orang-orang yang berpotensi terpapar antara 16—18 Desember 2024 diminta untuk memantau kondisi hingga 5 Januari 2025.
Dr. Jeremy McAnulty, Direktur Eksekutif Health Protection NSW, mengingatkan pentingnya vaksinasi. "Semua individu yang lahir setelah 1965 perlu memastikan telah menerima dua dosis vaksin campak sebelum bepergian ke luar negeri, mengingat wabah sedang terjadi di berbagai wilayah dunia," jelasnya.
Selain wabah campak, Hanoi, ibu kota Vietnam, menjadi sorotan setelah tercatat sebagai kota besar paling tercemar di dunia pada Jumat, 3 Januari 2025. Kabut asap tebal menyelimuti kota, mengurangi jarak pandang dan membahayakan kesehatan sembilan juta penduduknya akibat paparan udara beracun.
Menurut laporan AFP, tingkat polutan PM2.5 di Hanoi mencapai 227 mikrogram per meter kubik, 15 kali lipat dari ambang batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Polutan ini cukup kecil untuk memasuki aliran darah melalui paru-paru dan dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke, penyakit jantung, serta kanker paru-paru.
Pakar iklim Huy Nguyen menjelaskan bahwa polusi udara di Hanoi diperparah oleh emisi kendaraan bermotor, pembangunan infrastruktur, dan pembakaran lahan pertanian. "Kondisi cuaca yang tidak mendukung menyebabkan polutan terjebak dalam atmosfer dan terus menumpuk setiap hari," jelasnya.
Tran Quynh Lan, seorang pekerja kantoran, mengaku terpaksa menggunakan transportasi umum karena kesulitan bernapas saat berkendara dengan sepeda motor. "Kualitas udara sangat buruk sehingga saya harus memakai masker sepanjang waktu," ungkapnya.
Otoritas Vietnam telah mengimbau warganya untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan selalu mengenakan masker guna mengurangi dampak buruk polusi udara.
Peningkatan kasus campak dan polusi udara menjadi ancaman kesehatan serius bagi pelancong yang bepergian ke Asia Tenggara, khususnya Vietnam dan Thailand. Pemerintah Australia mengingatkan pentingnya vaksinasi dan kehati-hatian selama perjalanan untuk menghindari risiko penyakit menular dan dampak buruk polusi. (*)