RADARTUBAN- CEO TikTok, Shou Zi Chew, didapati menghadiri pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat di Washington, Senin (20/1)
Kehadirannya dianggap menjadi sinyal positif bagi kelangsungan TikTok di tengah ancaman larangan operasional di AS.
Sebelumnya, Mahkamah Agung AS memperkuat undang-undang yang melarang TikTok, kecuali perusahaan induknya, ByteDance, menjual aplikasi tersebut.
Namun, Trump menunda penerapan larangan itu selama 75 hari, memberikan waktu bagi ByteDance untuk menyelesaikan persyaratan hukum.
Dikutip dari The Straits Times, Trump sempat memuji TikTok karena perannya dalam menjangkau pemilih muda selama pemilu.
Dia juga mengusulkan pembentukan usaha patungan antara ByteDance dan Amerika Serikat, di mana AS akan memiliki 50% kepemilikan.
"Kita menyelamatkan TikTok, menjaganya di tangan yang tepat, dan membiarkannya berkembang," ujar Trump.
Sementara itu, TikTok menyampaikan kabar gembira kepada pengguna dengan pemberitahuan dalam aplikasi pada Minggu (19/1).
“Terima kasih atas kesabaran dan dukungan Anda. Sebagai hasil dari upaya Presiden Trump, TikTok kembali hadir di AS!” tulis TikTok.
TikTok sebelumnya dilarang oleh Presiden Joe Biden pada April 2024 karena dugaan ancaman terhadap keamanan nasional.
Para pejabat khawatir China dapat menggunakan ByteDance untuk mengakses data pengguna TikTok di AS atau menyebarkan disinformasi.
Meski tuduhan tersebut belum terbukti, laporan pada 2022 menunjukkan adanya akses data pengguna AS oleh karyawan di China.
Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran terhadap potensi risiko keamanan.
Kehadiran Shou Zi Chew di pelantikan Trump menjadi momen penting bagi TikTok. Sebelumnya, ia juga diketahui bertemu Trump di Mar-a-Lago, Florida, pada Desember 2024.
Selain Shou Zi Chew, pelantikan ini juga dihadiri sejumlah tokoh besar teknologi, seperti CEO Meta Mark Zuckerberg, pendiri Amazon Jeff Bezos, CEO Alphabet Sundar Pichai, serta CEO X dan Tesla Elon Musk.
Penundaan larangan TikTok menjadi angin segar bagi perusahaan tersebut. Namun, kejelasan mengenai nasib TikTok di AS akan sangat bergantung pada langkah strategis ByteDance dan upaya diplomasi dengan pemerintahan Trump. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni